Rabu, 30 Desember 2009

Ayo Ke Toraja: Ada Upacara Pemakaman di awal Januari 2010





Toraja selalu menarik untuk dikunjungi kapan saja, karena di daerah ini wisata ini selain kita akan terpesona oleh keindahan alamnya juga bentuk kehidupan masyarakat dan budayanya. Nah jika anda ingin jalan-jalan ke Toraja di awal tahun ini sebaiknya gunakan kesempatan tersebut.
Pasalnya pada tanggal 8-12 Januari 2010 nanti di lokasi wisata Kete’ Kesu’ akan ada upacara tradisi pemakaman. Upacara ini tergolong upacara tingkat tinggi, dengan jumlah hewan korban sembelihan minimal 24 ekor kerbau dengan jenis dan ukuran maksimal. Selain itu juga akan disembelih ratusan ekor babi



Selain mengikuti upacara prosesei pemakaman pelancong juga dapat menikmati lokasi wisata lainnnya antara lain kompleks rumah adat (tongkonan), pemakaman goa batu, kuburan di pohon, pemandangan alam batutumonga dan lain-lain.
Biaya perjalanan wisata ke Toraja selama 3 hari minimal Rp.1.750.000/ orang, sudah termasuk transportasi Makassar-Toraja (pp), penginapan, makan, dan transportasi lokal. Nah jika mau jalan-jalan ke Toraja sambil mendapat penjelasan tentang budaya mereka saya siap mengantar Anda. Ayo Ke TORAJA

Kamis, 03 Desember 2009

Antara Cicak dan Buaya, Kita ini Siapa?

Shaifuddin Bahrum

Tiba-tiba saja kita digandrungi berita tentang perseteruan Cicak dan Buaya. Di mana-mana orang membicarakan bagai mana sepak terjang keduanya dan siapa-siapa yang berada di belakang mereka. Di face book sebagai balai pertemuan raksasa juga orang-orang dari berbagai pelosok dunia memberikan pula komentarya. Pertarungan semakin seru ketika dibentuk presiden membentuk Tim Indipenden Verifikasi Fakta yang diketua oleh Adnan Buyung Nasition dan digelar acara dengar bersama rekaman pembicaraan telepon hasil sadapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lalu kita pun tersentak dengan setumpuk pertanyaan di kepala; ada apa dengan bangsa kita?
Meskipun awalnya banyak yang tidak paham dengan persoalan sesungguhnya akan tetapi setelah menyaksikan beberapa tayangan televisi, dan membaca pemberitaan yang ada lalu kemudian persoalannya kian semakin jelas. Kita pun semakin tahu siapa-siapa saja tokoh yang berperan di dalam cerita tersebut, lantara beberapa tokoh di dalamnya adalah pemain yang sudah popular dan juga kita berkenalan dengan tokoh-tokoh baru. Dari tokoh-tokoh yang berperan tersebut kemudian muncul bayangan samar-samar tentang siapa buaya dan siapa yang cecak.
Buaya menjadi ikon lembaga yang lebih besar dan cicak adalah lembaga yang lebih kecil. Buaya itu adalah simbol Polri dan Kejari dan cicak adalah KPK. Polri dan Kejari adalah lembaga yang memiliki jumlah personil dan jejaring yang lebih banyak di banding dengan KPK yang jumlahnya tidak banyak. Meskipun ada juga pengamat yang meletakkan kedua simbol itu secara terbalik. Simbol buaya diletakkan pada lembaga KPK, dan cicak pada Polri dan kejaksaan. Hal ini karena melihat wewenang yang ada pada kedua lembaga tersebut. Logikanya masa ada cicak yang bisa menelan buaya, KPK kan bisa mengejar-ngejar polisi dan jaksa, bisa menyadap telepon mereka.
Pertarungan Cicak dan Buaya ini pada dasarnya adalah sebuah pertarungan dalam rangka penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Kedua masalah ini sudah menjadi persoalan yang sangat mengganggu kehidupan bernegara kita. Pelakunya diperankan oleh para elit-elit negara kita dengan sokongan dana dari pengusaha-pengusaha besar (konglomerat) atau pakai duit negara. Sejak awal reformasi (1998) masalah ini sudah terkuak dan masalah tampak dengan jelas. Akan tetapi setelah 11 tahun perjalanan reformasi masalah ini tidak bisa terselesaikan dengan tuntas. Karena masih terkendala oleh permainan catur tingkat tinggi di sekitar istana. Penegakan hukum dan pemberantasan korupsi masih tebang pilih, dan kita sebagai rakyat biasa hanya bisa manggut-manggut menyaksikan pertunjukan sandiwara terjadi.
Dalam pertarungan cicak vs buaya ini kita juga kemudian tersadar bahwa ternyata hukum dan korupsi masih terus berlangsung di negeri ini karena selalu ada orang yang bisa membeli hukum dengan uang yang banyak. Uang bisa mengatur hitam putihnya keadilan di polisi dan di kejaksaan. Hal ini membuat kita semakin kehilangan kepercayaan pada institusi-institsi penegak keadilan. Karena symbol Dewi Keadilan yang ditutup matanya ternyata selama ini tipuan belaka, karena dia masih bisa melirik dan tergiur dengan uang. Atau mungkin kasus ini juga kita sudah tahu, tetapi tidak mau atau enggan berbicara, atau mungkin kita masih tergolong pelaku-pelaku ketidakadilan itu. Bisa saja, yang menyuburkan ketidakadilan dan korupsi di negeri ini adalah bersumber dari rakyat yang terbiasa bermain-main dengan uang dengan alas an klasik “demi lancarnya urusan”. Padahal tanpa kita sadari kitalah yang menanam bibit, dan memupuknya. Mulai dari tingkat bawah di kelurahan atau di desa, dengan menyogok tukang-tukang sapu/sampah, penjaga pintu, pegai lurah lurah, pak lurah, pak camat, polisi yang jaga di pinggir jalan atau di pos-pos penjagaan, sampai kemudian ditingkat yang lebih tinggi, semuanya kita biasakan member sogokan. Akhirnya beginilah jadinya negeri kita ini…
Entahlah, apakah kita termasuk dalam kelompok yang memihak pada cicik atau pada buaya?

Rabu, 02 Desember 2009

Takabonerate, Surga Bawa laut yang Jauh

Shaifuddin Bahrum



Menyaksikan keindahan pemandangan alam di darat mungkin akan membuat kita jadi jenuh, karena kita akan menyaksikan secara berulang-ulang pemandangan pegunungan, pepohonan, persawahan, dan pantai. Akan tetapi keindahan bawah laut akan membuat kita lebih tercengang dengan sesuatu yang baru yang mungkin belum pernah kita temukan sebelumnya. Apa lagi kita memiliki 2/3 wilayah laut dari keseluruhan wilayah Indonesia.
Takabonerate adalah salah satu kawasan taman laut yang berada di Kepulauan Indonesia. Daerah ini adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Selayar, Propinsi Sulawesi Selatan. Kecamatan ini terletak secara terpisah cukup jauh dari pulau induknya Pulau Selayar. Untuk mencapai Takabonerate dibutuhkan waktu berjam-jam lamananya dengan menggunakan perahu/kapal bermotor dengan kecepatan sedang dari Kota Benteng, Selayar.
Takabonerate terdisi atas gugusan pulau karang. Sebagian berpenghuni dan sebagian lagi dibiarkan kosong karena pulau tersebut hanya dipenuhi karang dan kadang tenggelam jika waktu air naik pasang. Dari puluhan pulau tersebut dibagi atas 5 desa atau pulau-pulau besar, Jakni Rajuni, Latondu, Tarupa, Jinato, Tambuna . Wilayah ini sudah dijadikan sebagai Taman Laut Nasional.













Penulis bersama sejumlah penyelam bersiap-siap menikmati keindahan bawah laut Takabonerate.


Taman Nasional Taka Bonerate memiliki karang atol (gugusan karang besar) yang terbesar ketiga di dunia yaitu setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva. Luas atol tersebut sekitar 220.000 hektar, dengan terumbu karang yang tersebar datar seluas 500 km².
Taman laut yang luas ini sangat mengundang minat pada pelancong untuk melakukan penyelaman (diving) atau renang permukaan (snorkeling) sembari menikmati keindahan karang dan sejumlah spesies ikan dan mahluk hidup lainnya di sana.

Kaya Biota Laut
Bukan sedekar isapan jempol belaka, untuk mengatakan bahwa Takabonerate memiliki pesona tersendiri. Karena hal tersebut telah dibuktikan dengan hasil penelitian ilmiah dari berbagai pakar dari berbagai disiplin ilmu. Kekayaan biota laut yang sudah teridentifikasi antara lain; terumbu karang sebanyak 261 jenis dari 17 famili; diantaranya Pocillopora Eydouxi, Montipora Danae, Acropora Palifera, Porites Cylindrica, Pavona Clavus, Fungia Concinna, dan lain-lain. Sebagian besar jenis-jenis karang tersebut telah membentuk terumbu karang atol (barrier reef) dan terumbu tepi (fringing reef). Semuanya merupakan terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh.



Terdapat sekitar 295 jenis ikan karang dan berbagai jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu (Epinephelus spp.), cakalang (Katsuwonus spp.), napoleon wrasse (Cheilinus undulatus), dan baronang (Siganus sp.). Sebanyak 244 jenis moluska diantaranya lola (Trochus niloticus), kerang kepala kambing (Cassis cornuta), triton (Charonia tritonis), batulaga (Turbo spp.), kima sisik (Tridacna squamosa), kerang mutiara (Pinctada spp.), dan nautilus berongga (Nautilus pompillius). Jenis-jenis penyu yang tercatat termasuk penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu lekang (Dermochelys coriacea).
Dari sejumlah pulau yang ada terdapat 15 buah pulau di Taman Nasional Taka Bonerate dapat dilakukan kegiatan penyelaman, snorkeling, dan wisata bahari lainnya.
Dalam penyelaman dan snorkeling kita akan menemukan dan menyaksikan keindahan alam bawah laut dengan gugusan trumbu karang yang menakjubkan dengan berbagai warna dan bentuknya, yang mungkin tidak kita temukan di perairan atau di laut lainnya. Kita pun akan bertemu dengan berbagai jenis ikan, kerang, dan berbagai biota laut lainnya seperti dijelaskan di atas.

Sorga yang Jauh
Untuk mencapai Kepulauan Takabonerate dapat ditembuh melalui tiga pintu utama yakni pintu pertama adalah dari Kota Benteng. Artinya jika dari Kota Makassar kita akan berangkat menuju Kabupaten Bulukkumba lalu melaui pelabuhan Tanjung Bira kita menyebrang dengan menggunakan kapal Fery. Perjalanan ini akan memakan waktu selama kurang lebih 7-8 jam dengan menggunakan bus angkutan via terminal Mallengkeri atau mubil pribadi dari Makassar sampai ke Kota Benteng. Dari Kota Benteng kita akan menggunakan kapal motor menuju Kepulauan Takabonerate. Perjalanan inipun akan memakan waktu sekitar 8 jam.



Pintu kedua adalah melalui Pelabuhan Tanjung Bira Setelah sampai di Tanjung Bira, pelancong juga dapat langsung diantar ke Takabonerate, dengan menggunakan kapal motor. Waktu tempuhnya juga akan memakan waktu kurang lebih 8-10 jam. Sedangkan pintu ke tiga melalui Pulau Bali (Kota Denpasar). Pintu ketiga ini bisanya diatur oleh agen perjalanan (travel biro).














Enaknya berenang di Laut Takabonerate yang bersih


Takabonerate memang terasa masih terlalu jauh, akan tetapi jika kita sudah melakukan perjalanan tersebut maka kenikmatan perjalanan akan lebih terasa dengan menyaksikan pemandangan dan tradisi masyarakat yang masih sangat alami (natural). Rasa lelah perjalanan pun akan terobati setelah menyaksikan sorga bawah laut yang ada tersembunyi di Takabonerate.

NUANSA SENI “TAKABONERATE EXPEDITION 2009”, SUKSES

Dalam rangkaian even promosi wisata “Takabonerate Island Expedition 2009” selain menggelar acara di laut seperti penyelaman (diving), selam permukaan (snorkeling), dan lomba mancing internasional juga diselenggarakan kegiatan kesenian antara lain; Pertunjukan Tari dan Barzanji massal, Festival Budaya Konjo, serta Festival Seni dan Budaya se Sulawesi Selatan. Acara ini berlangsung 16-24 Oktober 2009.
Salah satu kegiatan yang cukup menarik dalam iven ini adalah Festival Budaya Konjo. Acara ini diikuti oleh peserta dari Kabupaten Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Selayar. Konjo adalah masyarakat sub-etnik Makassar yang tersebar dibeberapa kabupaten. Di Kabupaten Selayar dan Bulukumba adalah daerah keompok besar masyarakat konjo. Festival ini bertujuan untuk mempertemukan masyarakat yang terpisah-pisah itu untuk saling memandang kebudayaan leluhur mereka. Dalam festival ini digelar Tari, musik, dan upacara tradisinal dan ritual.


sebuah Tarian Tim dari Kabupaten Barru







Sementara Festival Seni Tari dan Musik se Sulawesi Selatan di ikuti oleh beberapa kabupaten dan kota, antara Lain Kota Makassar, Pare-pare, Kabupaten Barru, Sidrap, Wajo, dan beberapa kabupaten lainnya. Kabupaten selayar sendiri mewajibkan 11 kecamatannya untuk terlibat dan mempersembahkan tradisi dan keseniannya. Keterlibatan peserta dari luar adalah suatu bentuk dukungan terhadap kegiatan “Takabonerate Expedition” yang sangat berharga ini. Setiap malam pertunjukan Anjungan Plaza Marina Benteng, Selayar selalu dibanjiri pengunjung yang berjubel menyaksikan atraksi kesenian yang disajikan.

Kamis, 17 September 2009

MENERIMA DENGAN IKHLAS (Jangan Resah dengan hasil Pemilu)

Bukan lagi kata yang asing. Ikhlas sebagai kata yang petik dari ajaran agama mengajarkan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan tanpa beban dalam hati kita.

Keikhlasan yang lahir dalam diri mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Namun dalam praktiknya bersikap ikhlas itu bukan sesuatu yang gampang untuk dikerjakan, tapi bukan sesuatu hal yang mustahil. Hati kita harus bisa dilatih untuk bersikap pasrah dan berserah diri kepada Tuhan dalam melakukan dan mengerjakan kebaikan.
Baru-baru ini Erbe Sentanu kembali meluncurkan bukunya The Science & Miracle of Zona Ikhlas (2009) setelah sukses dengan bukunya Quantum Ikhlas (2008) yang menjadi best-seller. Buku barunya tersebut memandang Zona Ikhlas dari sisi yang lebih ilmiah.
Saya tiba-tiba berkeinginan besar untuk memiliki buku ini setelah melihat fenomena akhir-akhir ini, terutama setelah dilaksanakannya Pemilihan Umum Legislatif 2009 pada bulan April yang lalu. Begitu banyak caleg yang mengalami penderitaan setelah gagal meraup suara yang menjadi penunjang untuk duduk berkantor di Gedung Perwakilan Rakyat. Sebagian di antara mereka terserang sakit fisik dan sebagian lagi terserang sakit jiwa dan bahkan ada yang sampai bunuh diri.
Hal ini terjadi lantaran mereka telah berkampanye dengan sangat maksimal dengan mengerahkan segala kemampuan dalam dirinya termasuk kemampuan finansialnya. Selain telah menguras tenaga dan pikirannya mereka pun mengeluarkan dana puluhan bahkan ratusan juta selama berkampanye. Mereka melakukan pendekatan, silaturahim, dan memberi bantuan/ sumbangan, baik kepada perorangan maupun ke lembaga-lembaga sosial.
Sesungguhnya apa yang caleg-caleg lakukan itu misalnya memberi bantuan dana, membagi-bagikan sembako dan pakaian, memberikan bantuan pengobatan gratis kepada yang sakit dan lain-lain adalah perbuatan amal. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sesuatu yang mulia di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja sangat disayangkan bahwa pemberian dan perbuatan baik itu sangat sarat dengan pamrih. Mereka memberi dengan mengharap imbalan dan bukan didasari rasa ikhlas karena ibadah kepada Tuhan semata. Di dalam hati para caleg yang tergambar adalah setiap rupiah yang dikeluarkan akan dibalas dengan pemberian suara. Besarnya dana yang dikeluarkan oleh caleg selalu berharap balasan suara yang cukup besar pula jumlahnya. Sehingga ketika melakukan kebajikan tidak ada lagi getaran-getaran Ilahiah yang berharap balasan dari Tuhan tetapi balasan dari manusia.
Ketika dalam Pemilihan Umum harapan itu tidak diraihnya. Suara dari pemilih tidak datang juga maka muncul penyakit dalam hatinya. Di sana ada rasa kecewa, dendam, frustrasi, dan marah. Sehingga untuk melampiaskan perasaannya itu ia kembali ke masyarakat yang pernah diberinya sesuatu menagih dan melakukan perusakan terhadap apa yang mereka telah bangun sebelum pemilu berlangsung. Sebagian para caleg yang memendam perasaan itu terserang penyakit jiwa.
Padahal jika jika semuanya diawali dengan rasa ikhlas mungkin akibatnya tidak separah sekarang ini. Rasa Ikhlas akan membangkitkan rasa percaya dirinya bahwa kegagalan menjadi anggota legislatif bukanlah suatu kiamat dalam kehidupan ini, kegagalan hari ini akan tergantikan dengan kesuksesan di hari esok di tempat yang lain. Tuhan pasti lebih di mana sebaiknya kita berada dalam kehidupan ini. Menjadi caleg bukan satu-satunya tempat meraih sukses. Soal dana yang habis terbagikan akan bernilai amal di sisi Tuhan, dan jika itu ada berkahnya maka Tuhan pasti akan menggantikan dengan rezki yang lebih banyak yang tidak diketahui dari mana asalnya nanti.
Berlaku dan bekerja secara ikhlas dalam kehidupan akan membawa kita dalam berbagai kejaiban dan hasilnya akan menakjubkan. Yah semoga hati ini bisa terus berlatih untuk ikhlas…. (Mei 2009-udin bahrum)

Liem Kheng Young : PENERJEMAH CERITA TIONGHOA KE DALAM LONTARAQ


Sampai pada tahun 1960an masyarakat Tionghoa di Makassar masih bisa menikmati tulisan-tulisan Liem Kheng Young dalam bentuk buku-buku cerita Tionghoa klasik seperti; Sam Kok, Sie Jin Kui, Hong Sing, Sam Peng Eng Tai, dan lain-lain sebagainya. Kisah-kisah itu dibaca dalam Bahasa Makassar dan dalam aksara lontaraqq. Buku-buku tersebut dapat dijumpai dalam berjilid jumlahnya.
Tercatat 64 judul cerita Tionghoa klasik yang telah diterjemahkan oleh Lieng Kheng Young di sekitar tahun 1928 sampai 1939. Cerita-cerita tersebut ditulisnya dengan tangannya sendiri dengan pit (pena/ kuas Tionghoa) dengan tinta hitam. Tulisannya itu dibuat dalam bentuk cerita bersambung berjilid-jilid. Setiap jilid berjumlah antara 80-84 halaman. Sehingga dapat dibayangkan ketekunan Liem Kheng Young dalam menerjemahkan dan menuliskan cerita-cerita klasik tersebut.
Sebuah cerita paling sedikit dibuat dalam 5 jilid dan ada juga yang ditulis sampai puluhan dan bahkan sampai 100 jilid lebih. Kisah Si Poet Tjoan dibuatnya 110 jilid dan Sam Kok mencapai 150 jilid. Karya tulis Liem Kheng Young berjumlah kurang lebih 2000 jilid.
Tidak kalah mengagumkannya adalah kemahirannya menerjemahkan dan menulis bahasa Makassar dengan aksara lontaraq. Penerjemah yang demikian paling tidak menguasai dengan baik dua bahasa tersebut. Tentu saja bukan hanya menguasai kedua bahasa tersebut (Tionghoa dan Makassar) tetapi juga menguasai latar sosial dan budaya kedua bahasa.
Buku sebanyak itu semasa hidupnya banyak dibaca oleh masyarakat Makassar, terutama kalangan perempuan (uwa-uwa dan encim-encim). Dalam waktu-waktu senggang mereka mengisinya dengan menyewa dan membaca buku-buku karya Liem Kheng Young.
Ketika sebelum perang dunia ke2 Liem Kheng Young bertempat tinggal di Kampung Melayu tepatnya di Jalan Sulawesi (dekat Jalan Pintu Dua). Di depan tempat tinggalnya itu ia membuka kios tempat penyewaan buku-buku tulisannya tersebut.

Liem Kheng Young

Liem Kheng Young di lahirkan di Provinsi (distrik) Tiotoa (Changtai) Fujian bagian Selatan pada tahun 1875 (tidak diketahui tanggal dan bulannya). Ayahnya bernama Liem Eng Djioe.
Sejak masa kecil orang tuanya sudah memberinya pendidikan kepada Kheng Young cilik sejak di negeri Tiongkok. Mo Ling dan Nio Tjiang Thai adalah dua gurunya yang paling berjasa yang telah memberinya pendidikan dasar di negeri asal nenek moyangnya. Ketika ia hijrah ke Makassar ia kemudian banyak belajar Bahasa Makassar dan huruf lontaraq. Kheng Young dikenal dalam keluarganya senang dan gemar membaca cerita-cerita klasik Tiongkok.
Di Makassar orang tuanya bekerja sebagai pedagang yang membuka toko barang pecah belah. Akan tetapi Liem Kheng Young tidak tertarik dengan dunia perdagangan, ia lebih tertarik untuk membaca dan menerjemahkan bacaannya itu ke dalam bahasa Makassar.
Tidak diketahui kapan aktifitasnya itu dimulai oleh Liem Kheng Young. Akan tetapi dari sekian banyak hasil terjemahannya itu dapat ditemukan tahun 1928 sebagai tahun tertua dan 1936 sebagai tahun termuda. Hasil terjemahannya itu yang dipersewakan menjadi lahan pekerjaan utamanya dan menjadi lahan penghasilannya.
Selain menerjemahkan dan menulis cerita ia juga menulis syair-syair ringkas tapi padat. Malah ia juga menulis buku dalam Bahasa Makassar yang memuat kecaman-kecaman terhadap pemuda-pemuda (siocia-siocia) yang bergaya modern dan mertua-mertua yang cerewet dengan kata-kata yang pedas.
Kini karya-karya Lieng Kheng Young sebagian masih tersimpan rapih oleh keluarga mereka. Hanya saja sudah tidak dipersewakan lagi. Karya tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Tionghoa Makassar telah melebar dalam kehidupan masyarakat dan budaya Makassar.(udin bahrum)

Sukuisme VS Pluralisme

Dewasa ini kita masih sering mendengarkan masyarakat berdebat soal keunggulan suku bangsa tertentu, lalu menganggap diri paling unggul. Perdebatan seperti itu tentu saja terasa gamang dalam era dewasa ini, karena untuk membangun Indonesia yang lebih kuat dibutuhkan kebersamaan semua elemen bangsa untuk bekerja sama.

Masalah sukuisme di negeri kita ini sudah semestinya berakhir sejak tahun 1928, ketika pemuda-pemuda Indonesia bersepakat untuk menyatukan diri membela memperjuangkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai ini. Mereka telah menyatu dalam sumpah satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa yakni Indonesia.
Namun kenyataannya masalah kesukubangsaan masih terus menjadi permasalahan hingga 80 tahun kemudian. Sebagian masyarakat Indonesia masih terlalu bangga membicarakan dan menonjolkan suku bangsanya masing-masing. Masalahnya karena Bangsa Indonesia terdiri atas beberapa suku bangsa.
Memang sulit untuk dipungkiri bahwa untuk membangun sebuah bangsa yang multi etnik seperti Indonesia tidak bisa terlepas dengan kuatnya masing-masing etnik pendukungnya. Di dalam etnik terdapat kekenyalan sosial dan budaya yang dapat memelihara berbagai potensial di dalamnya. Termasuk kekuatan potensi spiritual dan intelektual manusianya.
Namun kekuatan yang bersifat internal itu tidak dapat terukur jika tidak dibandingkan dengan kekuatan suku/etnik lain yang juga memiliki potensi yang besar pula sehingga perlu dilakukan kompetisi untuk mengetahui kekuatan masing-masing. Maka dengan demikian akan terlihat tingkatan-tingkatan kekuatan masing-masing etnik.
Keunggulan masing-masing etnik itu tentu akan sangat bervariasi pada masing-masing bidang/ potensinya. Setiap etnik memiliki keunggulannya pada bidang-bidang tertentu yang mungkin tidak dimiliki oleh suku/etnik yang lain. Demikian halnya dengan kekurangan atau kelemahan masing-masing etnik tentu saja ada pada masing-masing bidang.
Mencermati komposisi seperti itu maka terlihat adanya variasi yang bisa saling mengisi antara satu etnik/ suku dengan etnik lainnya jika dibangun sebuah masyarakat plural. Masyarakat yang majemuk akan menghilangkan keangkuhan kesukuan dan membangun kebersamaan saling membutuhkan (simbiosis mutualisme).
Masyarakat plural akan selalu menciptakan suasana saling menghargai kelebihan masing-masing dan menjalin hubungan jaringan kerja antara satu dengan lainnya. Jika menyadari bahwa dalam diri terdapat kekurangan maka untuk mengisinya kita membutuhkan orang lain.
Masalah kekinian Indonesia sudah bukan saatnya menonjol-nonjolkan masalah kesukuan atau etnik sendiri. Bukannya tidak penting akan tetapi masalah kesukuan adalah masalah internal masing-masing suku bangsa atau personal pendukungnya. Setiap orang harus memiliki rasa bangga terhadap suku yang menyadari kelebihan dan kekurangannya. Akan tetapi lebih penting lagi menyadari kelebihan orang lain dan memberinya penghargaan dan penghormatan yang semestinya. Sehingga dengan demikian dapat diciptakan satu jaringan kerja untuk bersama-sama membangun bangsa ini ke masa depan.
Adalah lebih bijak jika seseorang atau suatu kelompok masyarakat yang mengetahui kekurangan orang lain atau kelompok lain lalu menutupinya dengan sesuatu yang menjadi kelebihannya. Hubungan sosial seperti ini kemudian akan saling menguatkan antara satu dengan lainnya yang pada akhirnya melahirkan masyarakat Indonesia yang kuat, tangguh, dan unggul.

PRESIDEN DAN KITA

Kita baru saja melewati satu fase dari proses demokrasi di Indonesia, yakni pemilihan Umum Presiden untuk periode 2009-2014, setelah beberapa bulan yang lalu kita juga melewati Pemilu Legislatif. Apa pun yang dihasilkan dari Pemilu Presiden itu adalah terpilihnya seorang pemimpin bangsa yang terbaik bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

Pemilihan Presiden tentu bukanlah pemilihan Kepala Desa atau pemilihan Kepala Suku, karena wilayah geografis dan wilayah etnografisnya jauh lebih luas. Meskipun para candidat Presiden berlatar belakang wilayah dan etnik yang berbeda-beda. Tetapi ketika ia maju menjadi calon presiden maka garis-garis wilayah dan etnik tersebut akan tercabut dengan sendirinya dan melabeli dirinya dengan nasionalisme.
Pada awalnya memang muncul berbagai isu yang menonjolkan masalah kedaerahan, daerah asal yang sebenarnya sangat tidak relevan dengan pemilihan Presiden RI karena bangsa kita adalah bangsa yang multi etnik, dan multi kultur. Bangsa Indonesia dibangun dari sejumlah suku bangsa yang ada yang saling topang-menopang, bergotong-royong dan saling bahu membahu merebut kemerdekaan, dan melakukan pembangunan secara terus menerus selama 64 tahun.
Keberagaman kita ini menjadi penting dan merupakan suatu hal yang harus dianggap sebagai suatu kekuatan bangsa. Sehingga rancangan pembangunan ke depan yang diprogramkan oleh Presiden haruslah diarahkan kepada pemerataan ke semua bagian dalam masyarakat kita, dan di semua wilayah di bumi pertiwi ini.
Kesalahan masa lalu yang hanya melakukan pembangunan di wilayah-wilayah tertentu di Indonesia dan mengabaikan wilayah lain harus bisa diperbaiki. Wilayah yang tertinggal tersebut sudah saatnya dilakukan percepatan pembangunan untuk mengejar ketertinggalannya. Wilayah itu sudah semestinya diberikan perhatian khusus.
***

Seorang pemimpin bangsa akan menjadi bapak bagi segenap anak bangsa dari golongan atau dari etnik apapun. Sebagai bapak bangsa ia akan mengayomi melindungi dan sesekali akan menjewer telinga anak-anaknya jika ada yang bandel. Karena anak yang bandel akan mengganggu suasana rumah jika dibiarkan bertingkah. Maka sebagai langkah awal dan yang amat penting dilakukan oleh Bapak Presiden baru kita adalah melanjutkan menjewer telinga-telinga para koruptur yang merusak citra bangsa dan membuat banyak orang jadi menderita.
Presiden kita harus membuat negara ini menjadi aman, tentram, damai, dan sejahtera. Dengan rasa aman dan tentram masyarakat akan dengan mudah mengembangkan kehidupannya. Selain perekonomian akan tumbuh menuju kesejahteraan yang lebih baik berbagai usaha pun dapat dibangun untuk menopang kehidupan bangsa.
Traumatik masa lalu tentang berbagai kerusuhan yang berbau diskriminasi dan “sara” sudah saatnya diakhiri dan tidak lagi diberi kesempatan untuk muncul kembali. Semua suku bangsa yang ada di Indonesia harus diberi kesempatan yang sama untuk mengabdi dan mengeksperikan rasa cintanya kepada bangsa Indonesia dalam kerja, dan melakukan apa saja yang merupakan bentuk partisipasinya dalam pembangunan.
Sisa-sisa berbagai regulasi pemerintah masa lalu yang bersifat diskriminatif sudah saatnya dihapus dan digantikan dengar peraturan dan kebijakan yang lebih bersifat membangun kebersamaan.
Semua slogan yang muncul dalam kampanye Pilpres yang lalu harus kita simpan dalam file kita dengan baik sebagai bahan untuk menagih janji pada para tokoh dan bapak bangsa kita. Terlebih lagi bagi yang sudah terpilih oleh rakyat sebagai presiden. Mari kita menyimpan slogan “Pro Rakyat”, “Lanjutkan”, dan “Lebih Cepat Lebih Baik”, karena di balik slogan-slogan politik itu tersimpan janji pada kita sebagai rakyat. (juli 2009/ udin bahrum)

Merah Putih Pak Asdar

Di depan rumah tetanggaku Asdar Muis terdapat sebuah tiang bendera yang sepanjang tahun mengibarkan bendera sangsaka Merah Putih di ujungnya. Bendera itu tak pernah diturunkan. Semula kami tidak tahu alasannya, hanya kami mengira-ngira saja. Mungkin pemiliknya malas menaik turunkan bendera itu, atau memang mungkin tidak perduli.

Sangsaka Merah Putih yang dibiarkan menantang segala cuaca sepanjang tahun itu, perlahan memudar warnanya sehingga warnanya tidak lagi bisa disebut merah putih tetapi mungkin merah muda putih keabu-abuan, atau merah jambu pudar putih kotor yang jelas bukan lagi merah putih. Kainnya pun mulai rapuh seratnya sehingga jahitan ditepisnya sudah terlepas sebagian dan terlihat mulai kumal dan gembel.
Tapi pemiliknya tidak perduli, atau berkeinginan untuk menggantinya meskipun tiba saat orang menaikkan bendara Merah Putih pada setiap menjelang tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Entah kapan bendera itu dinaikkan dan kapan harus diturunkan. Mungkin sudah hampir tiga tahun bendera itu terus berada dipuncak tiang itu.
Setiap menjelang peringatan hari Proklamasi tetangga-tetangga sudah sibuk menaikkan bendera Merah Putih mereka yang berwarna cerah. Merahnya benar-benar berwarna merah dan putihnya adalah putih bersih. Karena bendera-bendera mereka setiap selesai peringatan agustusan maka kain berwarna merah dan putih itu diturunkan kembali lalu dilipat dengan rapi dan disimpan dalam lemari. Jadi bendera itu hanya berkibar paling tidak hanya 2 minggu lamanya di atas tiang. Sehingga dengan demikian warna dan kainnya awet.
Tetapi bendera pak Asdar dibiarkan sepanjang tahun diterpa sinar matahari dan debu atau diguyur hujan dan embun. Seorang tetangga lalu berkomentar “Pak Asdar itu memang nasionalismenya tinggi, dan untuk menandai itu tak seharipun ia tidak mengibarkan bendera kebangsaan kita.” Saat itu sang tetangga tadi masih ingin berkomentar tentang bendera yang berkibar ditiup angin sepoi-sepoi, tetapi Pak Asdar tiba-tiba muncul di depan rumahnya. Rupanya sang pemilik bendera itu mendengar sejak tadi kami berdiskusi di depan rumahnya tentang bendera miliknya. Lalu ia berkata, “Ooo saol bendera itu?” Sambil memandang bendera yang mulai sobek bagian bawahnya dipermainkan angin “Kalian salah menduga….saya hanya mengamalkan lagu ciptaan Ibu Sud yang berjudul “Berkibarlah Benderaku”. Lalu dengan tidak segan-segan ia menyanyikan lagu itu dengan suara yang lantang:

Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa

Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang merah putih yang perwira
Berkibarlah Slama-lamanya

“ Jadi saya hanya membiarkan bendera itu berkibar selama-lamanya dan jangan ada yang berani menurunkannya, karena jika ada yang berani menurunkan maka serentak rakyat membelanya. Paling tidak rakyat yang ada di dalam rumah itu.” Sambil menunjuk rumahnya sendiri.
Kami yang ada di tepi jalan depan rumah Pak Asdar tak ada lagi yang beri komentar. Kemudian Pak Asdar kembali menyanyikan lagu karangan Ibu Sud itu dan kami semua mengikutinya, meskipun sudah agak lupa liriknya karena sudah lama tak pernah lagi menyanyikannya.

Kue Dadar Silaturrahim

Di daerah Pecinan Makassar terdapat sejumlah mesjid yang telah dibangun dan mencatat perjalanan sejarahnya masing-masing. Di sana terdapat masjid Makmur atau mesjid Melayu di perempatan Jalan Sangir dan jalan Sulawesi, Mesjid di Jalan Timor, dan mesjid As’said atau lazim disebut masjid Arab di Jalan Lombok. Juga terdapat masjid Mubarak di Jalan Butung, mesjid Taqmirul Masajid di Jalan ……… dan Mesjid Amanah Ende di Jalan Ende.
Sebagian mesjid tersebut berada di tengah-tengah masyarakat Tionghoa yang non-muslim. Tapi itu bukan persoalan karena semua berjalan baik-baik saja dan kerukunan yang bisa tercipta dengan baik. Buktinya tidak pernah ada keributan antaragama di sekitar kawasan mesjid. Bahkan setiap bulan Ramadhan warga Tionghoa non-muslim pun ikut membawa kue-kue (takjir) untuk suguhan buka (batal) puasa.

Acong dan Amir adalah dua anak yang hidup bertetangga di kawasan Pecinan tak jauh dari masjid Arab. Keduanya berkawan dan bersahabat. Keduanya adalah anak laki-laki usia 11 dan 12 tahun. Keduanyapun berbeda suku dan agama. Dari namanya Acong terlahir dari orang tua keturunan Tionghoa yang beragama Budha Khonghucu dan Amir anak dari orang tua yang berdarah Bugis Wajo dan beragama Islam.
Meskipun keduanya sama-sama kelas 5 tetapi ia belajar di sekolah dasar berbeda yang ada di kawasan Pecinan. Tetapi sepulang sekolah keduanya hampir tak pernah terpisahkan. Setelah mereka makan siang dan ganti baju merekapun menuju halaman mesjid. Lalu di sanalah mereka bermain bersama teman-temannya yang lain. Kadang kalau sudah lelah mereka akan tidur di teras mesjid sampai waktu ashar tiba.
Apa lagi dalam bulan puasa Amir tidak pernah alfa.
Sejak di kelas tiga SD Amir sudah dilatih oleh orang tuanya untuk menahan lapar dan dahaga hingga sore hari. Meskipun susah Amir tetap menjalaninya dan pada akhirnya sudah terbiasa. Ia pun sudah mempelajari rukun-rukun dan wajib puasa sehingga ia tahu apa yang harus dilakukannya selama berpuasa dan apa yang tidak. Secara sederhana pengetahuannya tentang puasa antara lain tidak boleh makan dan minum, tidak boleh berkata-kata bohong dan jorok, dan tidak boleh berkelahi, bertengkar, dan menangis.
Mengetahui Amir berpuasa Acong juga menunjukkan pengertian dan solidaritasnya. ia juga tidak pernah makan dan minum ketika bersama Amir. Bahkan kalo buka puasa Acong selalu mendapat sebuah kue dadar dan kue lainnya serta segelas teh atau sirup. Acong pun ikut bersama-sama Amir dan kawan-kawan lainnya berbuka puasa di mesjid. Tak ada yang mempersoalkan, tak ada yang protes. Acong dianggap sebagai bagian mereka juga di masjid itu.
Pada hari-hari tertentu ibu Acong juga meminta anaknya untuk mengantarkan kue jajanan dan minuman ke mesjid untuk berbuka puasa. Kiriman itu dilakukannya sekali seminggu, sehingga dalam bulan Ramadhan ia lakukan empat kali. Meskipun mereka bukan keluarga muslim akan tetapi mereka merasa nyaman, tentram, bahagia, jika bemberikan sesuatu ke mesjid. Tradisi ini sesungguhnya juga dilakukan oleh orang tua mereka dahulu ketika masih hidup. Kata ibunya “Ini adalah tradisi nenek kamu, yang adalah orang Makassar dan beragama Islam. Jadi tradisi ini harus tetap dilakukan setiap Ramadhan, agar hubungan silaturrahim kita tidak terputuskan.” Dan ternyata kue kesenangan neneknya dulu adalah kue dadar, kue kesenangan Acong dan Amir juga.
Tetapi tetangga keluarga Acong yang juga orang Tionghoa juga mengantarkan makanan buka puasa ke mesjid, pada hal mereka tidak punya keturunan Makassar. Mereka adalah totok yang kakek-nenek dan moyangnya semua berasal dari Tiongkok. Ketika Ibu Acong bertanya ke ibu Lanny tetangganya, ibu itu hanya menjawab “ Yah saya hanya mengikuti tradisi ibu yang mengirim kue dadar ke mesjid, saya lihat ibu bahagia memberikan buka puasa, jadi saya lakukan juga mengirim kue dadar ke sana. Lagi pula tidak ada larangan, khan, dan pengurus masjid mau menerima pemberian kita….”. Ibunya Acong hanya manggut-manggut dan tersenyum, setuju.
“Apakah orang buka puasa harus kue dadar, yah…” Tanya ibu Lanny.
“Tentu tidak..” Jawab ibunya Acong.
“Karena Acong kadang membawa kue lain pulang ke rumah sehabis buka puasa…” katanya saat hari menjelang sore. (udin bahrum)

Jumat, 11 September 2009

Maq Cammana: PARAWANA TOWAINE YANG BERTAHAN



Parawana Towaine adalah salah satu tradisi (sastra) lisan yang masih bertahan di daerah Mandar (Polman, Majene, dan Mamuju). Kebertahanan kesenian ini masih dilakoni oleh seorang ibu tua; Maq Cammana (72 tahun) dan mengajarkan kepada generasi muda di desanya.

Maq Cammana yang usianya kini semakin uzur, tetap eksis berdaqwah melalui keseniannya. Berbekal sebuah gendang rebana yang berukuran jari-jari 40 cm, Cammana meluncurkan petuah-petuah dan nasehat-nasehatnya kepada audensi yang mengelilingi pertunjukannya di sebuah rumah di Kecamatan Tinambung Polewali Mandar. Biasanya ibu yang sangat disegani dan dicintai oleh anak-anak dan cucunya ini melakukan pertunjukan jauh ke pelosok daerah di Polman, Majene sampai ke Mamuju. Bahkan ia sering di jemput untuk main ke Kalimantan, dan Jawa meninggalkan rumahnya di Desa Limboro Kecamatan Tinambung. Bahkan ulama seniman Emha Ainun Najib beberapa kali melibatkan Maq Cammana berkolaborasi bersama kelompok musik Kyai Kanjeng dan berpentas di Yogyakarta dan Jakarta.


Kesenian Parawana Tawaine (permainan rebana perempuan) tidak lagi ditemukan di daearah Mandar kecuali yang ditekuni oleh Cammana bersama anak cucu dan murid-muridnya. Meskipun di Mandar kesenian rebana masih cukup populer akan tetapi dewasa ini banyak digeluti oleh kaum pria. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan dalam masyarakat Mandar dalam acara perayaan akad nikah, khitanan, khatam Quran, memasuki rumah baru, khakikah, dan lain-lain sebagainya.
Parawana Towaine biasanya dibawakan secara solo (tunggal) akan tetapi sering disajikan secara berkelompok dua sampai lima orang perempuan yang bernyanyi secara bersama-sama. Bagian-bagian yang dinyanyikan secara solo biasanya berisi nasehat-nasehat dan bagian ini dibawakan oleh pimpinan kelompok yakni Maq Cammana. Rombongan lainnya menyanyikan lagu-lagu koor. Syair-syair yang dinyanyikan tersebut sepenuhnya berbahasa mandar. Meski demikian Maq Cammana juga menghafalkan beberapa nyanyian yang berbahasa Indonesia (Melayu).

Kesenian Parawana Towaine ini sangat bernuansa Islam. Selain menggunakan alat musik rebana yang merupakan alat musik dari jazirah Arab, syair-syairnya pun adalah nasehat-nasehat yang dilandasi oleh ayat-ayat suci Alquran dan sunnah Nabi Muhammad. Dengan bentuk yang demikian menjadikan kesenian ini sangat dekat dengan masyarakat mandar yang mayoritas beragama Islam yang taat. Bahkan Parawana Towaine yang dikenal sejak awal masuknya Islam ke Mandar (abad 17) dapat bertahan hingga saat sekarang ini.
Ketika Maq Cammana masih remaja kesenian ini banyak digemari. Bahkan ketika itu ia sempat belajar bersama 5 orang kawannya pada seorang guru yang masih terbilang kerabatnya. Kelima orang kawannya itu juga membentuk kelompok di desanya masing-masing. Namun dalam perjalanan waktu, kawan-kawannya itu tidak lagi menggeluti kesenian rebana ini. Bahkan beberapa diantaranya sudah meninggal.
Untung saja masih ada Maq Cammana yang bisa meneruskan kesenian yang terancam punah ini dan bahwa dapat mewariskannya kepada anak dan cucunya serta beberapa generasi muda lainnya. Di rumahnya di Desa Limboro Maq Cammana yang juga dikenal sebagai uztasah ini membangun sebuah sanggar dengan bangunan permanen atas bantuan Pemkab Polman yang peduli atas kesenian Parawana Towaine ini. Di tempat inilah Maq Cammana pada hari-hari tertentu mengumpulkan murid-muridnya untuk belajar bermain rebana sambil menghafalkan syair-syair dakwah yang telah diwariskan secara turun temurun atau dibuat baru (Udin Bahrum - Salma).

Selasa, 10 Maret 2009

Tradisi Lisan "ROYONG" dalam Masyarakat Makassar

Sastra lisan yang banyak tersebar di Nusantara menjadi kekayaan budaya bangsa Indonesia yang senantiasa harus dilestarikan dan kembangkan. Sastra lisan tersebut telah membuktikan dirinya sebagai media sekaligus sebagai guru masyarakat yang memberikan pengajaran etika dan moral kepada masyarakat pendukungnya. Tuturan-tuturan tersebut telah ikut membentuk kepribadian manusia-manusia Indonesia menjadi kuat dan tangguh.
Demikian halnya di Sulawesi Selatan khususnya dalam masyarakat Etnik Makassar yang mendiami pesisir pantai jazirah selatan Pulau Sulawesi. Masyarakat Makassar mengenal berbagai sastra Lisan baik yang berbentuk prosa maupun puisi. Sastra lisan yang baik dalam bentuk prosa maupun puisi dituturkan dengan jalan dinyanyikan atau disenandungkan dengan diiringi oleh berbagai macam instrumen/ bunyi-bunyian dan alat musik. Jenis sastra yang dituturkan selain dinamai sesuai dengan alat musik yang mengiringinya juga ia diberinama tersendiri sesuai nama sastra tersebut. Beberapa sastra prosa dinamakan sinriliq dan kacaping, karena sastra ini dituturkan dengan jalan dinyanyikan karena diiringi oleh alat rebab (sinriliq/kesoq-kesoq) dan kecapi. Sastra puisi diberi nama kelong yang seara harfiah diterjemahkan sebagai nyanyian. Namun pada dasarnya kelong adalah karya sastra yang berbentuk larik-larik kelompok kata yang berpola dan dibawakan secara bernyanyi atau bersenandung. Salah satu karya sastra yang berbentuk puisi (kelong) adalah Royong.
Royong adalah adalah sastra lisan dalam ritus upacara adat Makassar. Tradisi lisan ini biasanya dipentaskan pada upacara adat perkawinan, sunatan, khitanan, upacara akil balik dengan memakaikan baju adat/ baju bodo kepada anak gadis (nipasori baju), dan juga pada upacara ritual kelahiran (aqtompoloq) dan upacara penyembuhan penyakit cacar (tukkusiang).
Sastra lisan Royong dewasa ini mengalami masa menghampiri kepunahan. Selain ia kehilangan tradisinya lantaran para bangsawan kerajaan Gowa tidak lagi melaksanakan upacara-upara daur hidup secara tradisional akan tetapi melaksanakannya dengan sederhana, dan mengikuti ajaran syariat Islam yang tidak lagi membutuhkan kehadiran royong sebagai media permohonan doa, sehingga secara perlahan-lahan sastra Royong sangat jarang dituturkan lagi. Juga pendukung/pelaku royong sudah lanjut usia. Rata-rata usia paroyong¬¬ sekarang ini di atas 70 tahun dan hanya mewariskan kepada beberapa orang generasi muda. Hal inilah menggugah perhatian kami untuk melakukan penelitian/perekaman agar sastra lisan ini dapat dipertahankan keberlanjutannya dan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakatnya dewasa ini (Solihing, 2004; 5) .
Tradisi Lisan Royong sangat terkait dengan strafifikasi sosial masyarakat etnik Makassar. Dalam masyarakat Makassar dikenal tingkatan masyararat antara lain:
1). kelas atas adalah keluarga raja yang berkuasa (Sombaya),
2). bangsawan (karaeng),
3). masyarakat biasa yang bebas dari perbudakan (Tomaradeka),
4). budak (ata).
Adapun tingkatan royong dikenal adanya:
1. Royong Bajo yang digelar untuk kalangan/ keluarga raja (sombaya), b.
2. Royong Karaeng untuk kalangan bangsawan
3. Royong Daeng untuk kalangan tomaradeka
Sementara kalangan budak tidak ditemukan jenis royong untuk kereka.

PERANAN BUDAYA SUKU/ ETNIS DALAM PEMBANGUNAN BANGSA Oleh: Shaifuddin Bahrum

Salah satu karunia besar yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Bangsa Indonesia adalah bangsa ini memiliki ratusan suku bangsa (etnik) yang tersebar di ribuan pulau-pulau di Nusantara. Setiap suku bangsa memiliki ciri-cirinya tersendiri yang membedakan dengan suku bangsa lainnya.
Perbedaan-perbedaan antara satu suku bangsa/ etnik dapat dijumpai antara lain dari bahasanya, tradisi dan budayanya, serta berbagai cara hidup mereka dan nilai-nilai budaya yang mereka anut. Perbedaan itu menciptakan keberagaman etnis dan budaya di Indonesia.
Keberagaman ini menciptakan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun para pendiri negara sudah mengantisipasi kondisi ini dengan membuat semboyan “Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetapi tetap satu), dengan satu harapan bahwa dalam keberagaman suku bangsa ini tetap terjalin persatuan di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan dalam Kongres Nasional Pemuda Indonesia II Tahun 1928 para pemuda dari berbagai etnik di Nusantara berikrar untuk menyatukan diri di bawah nama Indonesia (berbahasa satu, berbangsa satu, dan bertanah air satu; Indonesia).
Meskipun semboyan Bhineka Tunggal Ika ini pada masa Orde Baru telah disalah artikan. Kata bhineka tidak banyak diberi arti atau dimaknai. Bahkan kata keberagaman ini justru berupaya dihilangkan dengan bagi upaya. Keberagaman seolah-olah adalah sesuatu yang haran terjadi di Indonesia. Rezim Orde Baru seolah-olah menginginkan hanya ada satu warna yang bernama Indonesia. Gejala ke arah itu terlihat dalam setiap kebijakan diambil oleh pemerintah yang memandang sama semua wilayah Indonesia, juga dalam acara-acara di televisi (TVRI), dan lain-lain sebagainya.
Hal ini juga terkait dengan dunia keamanan dan stabilitas negara. Sehingga dengan demikian negara lebih banyak mengupayakan terwujudnya tunggal ika yang lebih dimaknai “menjadi satu”. Dalam mewujudkan hal tersebut maka dilakukanlah upaya untuk menghapuskan mosaik yang beraneka warga suku bangsa itu menjadi mono warna yang bernama Indonesia.
Dalam keberanekaan disadari adanya dua potensi yang dapat muncul. Potensi pertama bersifat positif, karena keberagaman dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan bersama jika semua potensi disatukan. Masing-masing suku bangsa/ etnik memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehingga jika kelebihannya di kumpulkan maka akan menjadi sebuah kekuatan yang besar.
Keberanekaan suku bangsa itu juga bisa menjadi potensi yang mengarah pada hal yang bersifat negatif, terutama menjadi sumber terjadinya berbagai konflik. Masing-masing etnik menonjolkan kelebihan masing-masing dan merendahkan kelompok etnik yang lain dengan mencibir berbagai kekurangannya, keadaan seperti ini disebut juga etnosentrisme. Sehingga terdapat etnik yang akan merasa superior jika dia lebih mayoritas atas etnik lain yang ada di sekitarnya yang cenderung minoritas. Konflik yang terjadi kemudian menyebabkan kerusakan dan jatuh korban jiwa.
Hal ini telah banyak terjadi beberapa tahun lalu yakni terjadinya konflik diberbagai daerah, seperti di Sambas, Kalimantan, di Ambon, konflik etnis dan agama di Poso Sulawesi Tengah, dan konflik Tionghoa di Jakarta, Solo, Makassar, dan di beberapa kota lainnya. Konflik-konflik tersebut menelan banyak kerugian harta benda dan jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit.

Budaya Suku Bangsa di Indonesia
Terbetuknya keberanekaan suku bangsa di Indonesia disebabkan oleh awal mula kedatangan nenek moyang Bangsa Indonesia ke Nusantara. Sebagian besar penduduk di Nusantara berasal dari ras Proto Melayu dan Mongoloid (China), namun ada pula sebagian kecil berasal dari ras Negroid. Kemudian di Nusantara mereka mengembangkan kebudayaan mereka dan menyesuaikan dengan alam dan tantangan kehidupan yang ditemuinya. Sehingga di setiap daerah menciptakan tradisi dan kebudayaannya masing-masing.
Meskipun mereka sama-sama berasal dari ras yang sama akan tetapi karena tantangan kehidupan, alam dan lingkungan yang bebeda sehingga melahirkan kebudayaan yang berbeda pula. Ada yang mendapat tantangan hidup di tepi laut, di gunung-gunung batu, di lahan-lahan yang subur, ataupun di daerah rawa-rawa. Di tempat mereka yang baru masing-masing menghadapi tantangan hidup yang berbeda, sehingga untuk menjawabnya mereka pun mencari cara yang berbeda pula. Demikian pula dalam menanggapi alamnya mereka pun melakukan dengan berbagai cara.
Meskipun serumpun orang Bugis, Makassar, Mandar, mungkin Toraja memiliki perbedaan kebudayaan dan pola kemasyarakatannya. Seperti halnya di Sumatra antara orang Aceh, Padang, Minang, dan mungkin Batak juga terdapat perbedaan-perbedaan. Di Pulau Jawa antara orang Jawa, Sunda, dan Betawi juga memiliki perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu dapat dikenali dengan mengamati perilaku/ aktifitas kehidupan mereka dalam memberikan jawaban terhadap tantangan hidupnya dan menanggapi alamnya.
Dalam perkembangan kemudian masing-masing suku bangsa yang sudah mulai terbentuk tersebut kemudian pula mendapat pengaruh dari kebudayaan luar. Mulanya mendapat pengaruh kebudayaan Hindu yang datang dari India, kemudian kebudayaan Islam yang datang dari Arab, dan kebudayaan Eropa yang dibawah oleh bangsa penjajah yang mencari rempah-rempah.
Masing masing kebudayaan tersebut meninggalkan anasir-anasir kebudayaannya dalam masyarakat di Nusantara. Kebudayaan Hindu, Islam, dan Eropa yang juga membawa agama Kristen dapat ditemukan pada suku bangsa yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Hampir di seluruh Nusantara bekas kebudayaan Hindu masih dapat dijumpai hingga dewasa ini terutama pada masyarakat Jawa dan Bali. Di sana kita masih dapat menemui candi-candi dan berbagai ritual dalam penganut agama Hindu.
Kebudayaan Islam demikian pula dapat ditemukan di hampir semua pelosok Nusantara. Di mana-mana terdapat masjid dan berbagai tradisi dan ritual/ibadah menurut ajaran Islam. Demikian halnya dengan pengaruh kebudayaan Barat dan Kristen, yang biasanya dikenal sebagai pelopor kebudayaan modern.
Pesebaran pengaruh kebudayaan yang baru itu tidak merata dan terdapat spasi-spasi sehingga terbentuk suatu konfigurasi kebudayaan yang beraneka ragam dan beraneka warna. Di Pulau Bali yang kecil misalnya meskipun di sana penduduknya mayoritas beragama Hindu akan tetapi ada kampung-kampung tersendiri yang beragama Islam dan juga beragama Kristen. Terlebih lagi di pulau-pulau yang besar seperti Sulawesi, Kalimantan, Papua, Jawa, dan Sumatera.
Keberhasilan mereka untuk melangsungkan kehidupannya dan menjawab semua tantangan yang dihadapi dalam kehidupan menunjukkan setiap suku bangsa memiliki keunggulan. Sehingga semua suku bangsa yang ada di Nusantara yang dapat hidup bertahan hingga saat ini dapat disebut sebagai suku bangsa yang unggul, karena mereka bisa mengatasi berbagai tantangan hidupnya dan padat berinteraksi dengan alam secara baik. Beberapa suku bangsa yang tidak dapat mengatasi tantangan hidupnya dan tidak berhasil berinteraksi dengan alamnya terpaksa harus punah dan gagal untuk melangsungkan kehidupannya.
Bangsa yang unggul adalah suku bangsa/etnik yang mampu bertahan hidup.

Kesukubangsaan dalam Persatuan
Bangsa Indonesia sudah sejak awal terbentuknya terdiri atas ratusan atau mungkin ribuan suku bangsa. Sebagian di antaranya harus punah karena tidak mampu mempertahankan kehidupannya.
Keberagaman suku bangsa ini tidak jarang membawa konflik antaretnik atau suku bangsa. Hal ini disebabkan karena munculnya etnosentrisme pada masing-masing masyarakat budaya yang selalu menganggap dirinya yang paling baik dan paling unggul. Padahal setiap etnik yang mampu bertahan hidupnya adalah suku bangsa yang tangguh. Ketangguhan itu bukan disebabkan atau diuji oleh suku bangsa lain, tetapi oleh tantangan kehidupan dan alam. Sehingga tidak berarti suku bangsa yang memiliki jumlah pendukung terbanyak (dominan/mayoritas) harus merasa lebih unggul dari suku bangsa yang lebih sedikit (minoritas).
Etnosentrisme seperti ini akan membawa ketidaktentraman dalam kehidupan sebagai sebuah bangsa (nation) yang lebih besar. Dengan munculnya berbagai konflik antarsuku bangsa maka akan menghancurkan potensi yang ada dalam suku bangsa itu.
Hal inilah yang telah bertahun-tahun telah terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Persoalan suku bangsa selalu menonjolkan perbedaan yang dimiliki sebagai suatu hal yang tidak sewajarnya. Selain itu juga menganggap bahwa suku bangsa mayoritas adalah suku bangsa yang lebih unggul dari pada yang minoritas. Padahal bukan disitu persoalannya.

Multi Etnik dan Pembangunan Bangsa
Bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang memiliki etnik yang cukup banyak seharusnya menyadari bahwa bangsa ini memiliki banyak manusia unggul di dalamnya. Kebudayaan harus dipandang secara relatif, bahwa semua kebudayaan memiliki keunggulannya masing-masing yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya.
Dalam konfigurasi kebudayaan Indonesia ini ada suku bangsa yang unggul karena kemampuannya mengatasi tantangan hidup di laut sehingga ia dikenal sebagai suku bangsa yang gagah perkasa di laut. Tetapi ada juga suku bangsa yang unggul karena mampu menghadapi tantangan hidupnya di gunung-gunung batu atau di hutan-hutan, dan ada pula suku bangsa yang unggul menghadapi tantangan hidupnya di daerah rawa-rawa. Masing-masing etnik ini unggul di alamnya masing-masing dan belum tentu unggul jika mereka dipertukarkan ke alam yang lain.
Dengan demikian maka terlihatlah keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Hal ini harus disadari oleh masing-masing etnik bahwa mereka memiliki kelebihan dan kekurangan, demikian halnya dengan etnik lainnya mereka pun pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Pandangan seperti ini dalam kebudayaan disebut sebagai relativisme kebudayaan.
Menyadari relativisme ini maka sudah semestinya dibangkitkan suatu sikap hidup untuk menyatukan semua potensi unggul yang dimiliki masing-masing suku bangsa. Setiap kelebihan atau keunggulan suatu suku bangsa dijadikan suatu kekuatan bersama untuk menutupi kelemahan suku bangsa lainnya dan demikian pula sebaliknya. Sehingga dengan demikian kekuatan Bangsa Indonesia yang besar ini akan menjadi lebih unggul dengan adanya hubungan saling kerjasama dan bersatupadu.
Masing-masing etnik yang ada di Nusantara ini harus menunjukkan rasa bangga terhadap suku bangsanya karena menyadari memiliki keunggulan, namun pada saat yang bersamaan ia pun harus menunjukkan rasa hormat dan penghargaannya kepada suku bangsa yang lain yang juga memiliki keunggulan yang berbeda dari dirinya yang akan mengisi kekurangannya.
Berbekal kesadaran ini proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan pun akan terjadi dengan baik. Adalah bukan dosa bagi suatu kebudayaan mengadopsi kebudayaan lain untuk dia miliki sebagai kebudayaannya dan sebaliknya memberikan kebudayaan yang baik yang dimilikinya kepada kebudayaan lain untuk dimiliki pula. Saling beri dan menerima kebudayaan yang baik adalah suatu hal yang lazim terjadi dalam pergaulan kebudayaan di muka bumi ini.
Dengan kesadaran seperti ini maka setiap etnik akan menjaga dirinya dan juga menjaga etnik lain yang juga adalah bagian dari keutuhan dirinya. Jika hal ini dapat tercipta kehidupan setiap suku bangsa akan senantiasa terjaga dengan baik karena selain ia menjaga dirinya ada pihak lain yang ikut melindunginya pula.
Dengan cara berpikir dan bertindak yang demikian maka persatuan dan kesatuan bangsa ini akan terbentuk. Segala bentuk kerusuhan dan konflik akan terminimalisir perpecahan dan berbagai kerusakan akan terhindarkan. Dengan demikian pembangunan bangsa dapat berlangsung dengan baik.

Daftar Bacaan Pendukung:
- Bahrum, Shaifuddin, 2008, Berubah, Metamorfosis Masyarakat Tionghoa Makassar dalam 10 Tahun Reformasi, Baruga Nusantara, Makassar.
- Bakir Zein, Abu, 2000, Etnis Cina, dalam Potret Pembauran Indonesia, Prestasi Insan Indonesia, Jakarta.
- Barth Frederik, 1988, Kelompok Etnik dan Batasannya, Penerbit Universitas Indonesia UI Press, Jakarta.
- Haviland, William, A, 1999, Antropologi (Jilid 1), Penerbit Erlangga, Jakarta.
- Salim, Agus, Dr., MS, Stratifikasi Etnik Kajian Mikro Sosiologi Interaksi Etnis Jawa dan Cina, Fak. Ilmu Pendidikan (FIP) Jurusan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang (UNES) dan Tiara Wacana.
- Sztompka, Piotr, 2005, Sosiologi Perubahan Sosial, Prenada, Media Jakarta.



Salah satu karunia besar yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Bangsa Indonesia adalah bangsa ini memiliki ratusan suku bangsa (etnik) yang tersebar di ribuan pulau-pulau di Nusantara. Setiap suku bangsa memiliki ciri-cirinya tersendiri yang membedakan dengan suku bangsa lainnya.
Perbedaan-perbedaan antara satu suku bangsa/ etnik dapat dijumpai antara lain dari bahasanya, tradisi dan budayanya, serta berbagai cara hidup mereka dan nilai-nilai budaya yang mereka anut. Perbedaan itu menciptakan keberagaman etnis dan budaya di Indonesia.
Keberagaman ini menciptakan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun para pendiri negara sudah mengantisipasi kondisi ini dengan membuat semboyan “Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetapi tetap satu), dengan satu harapan bahwa dalam keberagaman suku bangsa ini tetap terjalin persatuan di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan dalam Kongres Nasional Pemuda Indonesia II Tahun 1928 para pemuda dari berbagai etnik di Nusantara berikrar untuk menyatukan diri di bawah nama Indonesia (berbahasa satu, berbangsa satu, dan bertanah air satu; Indonesia).
Meskipun semboyan Bhineka Tunggal Ika ini pada masa Orde Baru telah disalah artikan. Kata bhineka tidak banyak diberi arti atau dimaknai. Bahkan kata keberagaman ini justru berupaya dihilangkan dengan bagi upaya. Keberagaman seolah-olah adalah sesuatu yang haran terjadi di Indonesia. Rezim Orde Baru seolah-olah menginginkan hanya ada satu warna yang bernama Indonesia. Gejala ke arah itu terlihat dalam setiap kebijakan diambil oleh pemerintah yang memandang sama semua wilayah Indonesia, juga dalam acara-acara di televisi (TVRI), dan lain-lain sebagainya.
Hal ini juga terkait dengan dunia keamanan dan stabilitas negara. Sehingga dengan demikian negara lebih banyak mengupayakan terwujudnya tunggal ika yang lebih dimaknai “menjadi satu”. Dalam mewujudkan hal tersebut maka dilakukanlah upaya untuk menghapuskan mosaik yang beraneka warga suku bangsa itu menjadi mono warna yang bernama Indonesia.
Dalam keberanekaan disadari adanya dua potensi yang dapat muncul. Potensi pertama bersifat positif, karena keberagaman dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan bersama jika semua potensi disatukan. Masing-masing suku bangsa/ etnik memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehingga jika kelebihannya di kumpulkan maka akan menjadi sebuah kekuatan yang besar.
Keberanekaan suku bangsa itu juga bisa menjadi potensi yang mengarah pada hal yang bersifat negatif, terutama menjadi sumber terjadinya berbagai konflik. Masing-masing etnik menonjolkan kelebihan masing-masing dan merendahkan kelompok etnik yang lain dengan mencibir berbagai kekurangannya, keadaan seperti ini disebut juga etnosentrisme. Sehingga terdapat etnik yang akan merasa superior jika dia lebih mayoritas atas etnik lain yang ada di sekitarnya yang cenderung minoritas. Konflik yang terjadi kemudian menyebabkan kerusakan dan jatuh korban jiwa.
Hal ini telah banyak terjadi beberapa tahun lalu yakni terjadinya konflik diberbagai daerah, seperti di Sambas, Kalimantan, di Ambon, konflik etnis dan agama di Poso Sulawesi Tengah, dan konflik Tionghoa di Jakarta, Solo, Makassar, dan di beberapa kota lainnya. Konflik-konflik tersebut menelan banyak kerugian harta benda dan jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit.

Budaya Suku Bangsa di Indonesia
Terbetuknya keberanekaan suku bangsa di Indonesia disebabkan oleh awal mula kedatangan nenek moyang Bangsa Indonesia ke Nusantara. Sebagian besar penduduk di Nusantara berasal dari ras Proto Melayu dan Mongoloid (China), namun ada pula sebagian kecil berasal dari ras Negroid. Kemudian di Nusantara mereka mengembangkan kebudayaan mereka dan menyesuaikan dengan alam dan tantangan kehidupan yang ditemuinya. Sehingga di setiap daerah menciptakan tradisi dan kebudayaannya masing-masing.
Meskipun mereka sama-sama berasal dari ras yang sama akan tetapi karena tantangan kehidupan, alam dan lingkungan yang bebeda sehingga melahirkan kebudayaan yang berbeda pula. Ada yang mendapat tantangan hidup di tepi laut, di gunung-gunung batu, di lahan-lahan yang subur, ataupun di daerah rawa-rawa. Di tempat mereka yang baru masing-masing menghadapi tantangan hidup yang berbeda, sehingga untuk menjawabnya mereka pun mencari cara yang berbeda pula. Demikian pula dalam menanggapi alamnya mereka pun melakukan dengan berbagai cara.
Meskipun serumpun orang Bugis, Makassar, Mandar, mungkin Toraja memiliki perbedaan kebudayaan dan pola kemasyarakatannya. Seperti halnya di Sumatra antara orang Aceh, Padang, Minang, dan mungkin Batak juga terdapat perbedaan-perbedaan. Di Pulau Jawa antara orang Jawa, Sunda, dan Betawi juga memiliki perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu dapat dikenali dengan mengamati perilaku/ aktifitas kehidupan mereka dalam memberikan jawaban terhadap tantangan hidupnya dan menanggapi alamnya.
Dalam perkembangan kemudian masing-masing suku bangsa yang sudah mulai terbentuk tersebut kemudian pula mendapat pengaruh dari kebudayaan luar. Mulanya mendapat pengaruh kebudayaan Hindu yang datang dari India, kemudian kebudayaan Islam yang datang dari Arab, dan kebudayaan Eropa yang dibawah oleh bangsa penjajah yang mencari rempah-rempah.
Masing masing kebudayaan tersebut meninggalkan anasir-anasir kebudayaannya dalam masyarakat di Nusantara. Kebudayaan Hindu, Islam, dan Eropa yang juga membawa agama Kristen dapat ditemukan pada suku bangsa yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Hampir di seluruh Nusantara bekas kebudayaan Hindu masih dapat dijumpai hingga dewasa ini terutama pada masyarakat Jawa dan Bali. Di sana kita masih dapat menemui candi-candi dan berbagai ritual dalam penganut agama Hindu.
Kebudayaan Islam demikian pula dapat ditemukan di hampir semua pelosok Nusantara. Di mana-mana terdapat masjid dan berbagai tradisi dan ritual/ibadah menurut ajaran Islam. Demikian halnya dengan pengaruh kebudayaan Barat dan Kristen, yang biasanya dikenal sebagai pelopor kebudayaan modern.
Pesebaran pengaruh kebudayaan yang baru itu tidak merata dan terdapat spasi-spasi sehingga terbentuk suatu konfigurasi kebudayaan yang beraneka ragam dan beraneka warna. Di Pulau Bali yang kecil misalnya meskipun di sana penduduknya mayoritas beragama Hindu akan tetapi ada kampung-kampung tersendiri yang beragama Islam dan juga beragama Kristen. Terlebih lagi di pulau-pulau yang besar seperti Sulawesi, Kalimantan, Papua, Jawa, dan Sumatera.
Keberhasilan mereka untuk melangsungkan kehidupannya dan menjawab semua tantangan yang dihadapi dalam kehidupan menunjukkan setiap suku bangsa memiliki keunggulan. Sehingga semua suku bangsa yang ada di Nusantara yang dapat hidup bertahan hingga saat ini dapat disebut sebagai suku bangsa yang unggul, karena mereka bisa mengatasi berbagai tantangan hidupnya dan padat berinteraksi dengan alam secara baik. Beberapa suku bangsa yang tidak dapat mengatasi tantangan hidupnya dan tidak berhasil berinteraksi dengan alamnya terpaksa harus punah dan gagal untuk melangsungkan kehidupannya.
Bangsa yang unggul adalah suku bangsa/etnik yang mampu bertahan hidup.

Kesukubangsaan dalam Persatuan
Bangsa Indonesia sudah sejak awal terbentuknya terdiri atas ratusan atau mungkin ribuan suku bangsa. Sebagian di antaranya harus punah karena tidak mampu mempertahankan kehidupannya.
Keberagaman suku bangsa ini tidak jarang membawa konflik antaretnik atau suku bangsa. Hal ini disebabkan karena munculnya etnosentrisme pada masing-masing masyarakat budaya yang selalu menganggap dirinya yang paling baik dan paling unggul. Padahal setiap etnik yang mampu bertahan hidupnya adalah suku bangsa yang tangguh. Ketangguhan itu bukan disebabkan atau diuji oleh suku bangsa lain, tetapi oleh tantangan kehidupan dan alam. Sehingga tidak berarti suku bangsa yang memiliki jumlah pendukung terbanyak (dominan/mayoritas) harus merasa lebih unggul dari suku bangsa yang lebih sedikit (minoritas).
Etnosentrisme seperti ini akan membawa ketidaktentraman dalam kehidupan sebagai sebuah bangsa (nation) yang lebih besar. Dengan munculnya berbagai konflik antarsuku bangsa maka akan menghancurkan potensi yang ada dalam suku bangsa itu.
Hal inilah yang telah bertahun-tahun telah terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Persoalan suku bangsa selalu menonjolkan perbedaan yang dimiliki sebagai suatu hal yang tidak sewajarnya. Selain itu juga menganggap bahwa suku bangsa mayoritas adalah suku bangsa yang lebih unggul dari pada yang minoritas. Padahal bukan disitu persoalannya.

Multi Etnik dan Pembangunan Bangsa
Bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang memiliki etnik yang cukup banyak seharusnya menyadari bahwa bangsa ini memiliki banyak manusia unggul di dalamnya. Kebudayaan harus dipandang secara relatif, bahwa semua kebudayaan memiliki keunggulannya masing-masing yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya.
Dalam konfigurasi kebudayaan Indonesia ini ada suku bangsa yang unggul karena kemampuannya mengatasi tantangan hidup di laut sehingga ia dikenal sebagai suku bangsa yang gagah perkasa di laut. Tetapi ada juga suku bangsa yang unggul karena mampu menghadapi tantangan hidupnya di gunung-gunung batu atau di hutan-hutan, dan ada pula suku bangsa yang unggul menghadapi tantangan hidupnya di daerah rawa-rawa. Masing-masing etnik ini unggul di alamnya masing-masing dan belum tentu unggul jika mereka dipertukarkan ke alam yang lain.
Dengan demikian maka terlihatlah keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Hal ini harus disadari oleh masing-masing etnik bahwa mereka memiliki kelebihan dan kekurangan, demikian halnya dengan etnik lainnya mereka pun pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Pandangan seperti ini dalam kebudayaan disebut sebagai relativisme kebudayaan.
Menyadari relativisme ini maka sudah semestinya dibangkitkan suatu sikap hidup untuk menyatukan semua potensi unggul yang dimiliki masing-masing suku bangsa. Setiap kelebihan atau keunggulan suatu suku bangsa dijadikan suatu kekuatan bersama untuk menutupi kelemahan suku bangsa lainnya dan demikian pula sebaliknya. Sehingga dengan demikian kekuatan Bangsa Indonesia yang besar ini akan menjadi lebih unggul dengan adanya hubungan saling kerjasama dan bersatupadu.
Masing-masing etnik yang ada di Nusantara ini harus menunjukkan rasa bangga terhadap suku bangsanya karena menyadari memiliki keunggulan, namun pada saat yang bersamaan ia pun harus menunjukkan rasa hormat dan penghargaannya kepada suku bangsa yang lain yang juga memiliki keunggulan yang berbeda dari dirinya yang akan mengisi kekurangannya.
Berbekal kesadaran ini proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan pun akan terjadi dengan baik. Adalah bukan dosa bagi suatu kebudayaan mengadopsi kebudayaan lain untuk dia miliki sebagai kebudayaannya dan sebaliknya memberikan kebudayaan yang baik yang dimilikinya kepada kebudayaan lain untuk dimiliki pula. Saling beri dan menerima kebudayaan yang baik adalah suatu hal yang lazim terjadi dalam pergaulan kebudayaan di muka bumi ini.
Dengan kesadaran seperti ini maka setiap etnik akan menjaga dirinya dan juga menjaga etnik lain yang juga adalah bagian dari keutuhan dirinya. Jika hal ini dapat tercipta kehidupan setiap suku bangsa akan senantiasa terjaga dengan baik karena selain ia menjaga dirinya ada pihak lain yang ikut melindunginya pula.
Dengan cara berpikir dan bertindak yang demikian maka persatuan dan kesatuan bangsa ini akan terbentuk. Segala bentuk kerusuhan dan konflik akan terminimalisir perpecahan dan berbagai kerusakan akan terhindarkan. Dengan demikian pembangunan bangsa dapat berlangsung dengan baik.

Daftar Bacaan Pendukung:
- Bahrum, Shaifuddin, 2008, Berubah, Metamorfosis Masyarakat Tionghoa Makassar dalam 10 Tahun Reformasi, Baruga Nusantara, Makassar.
- Bakir Zein, Abu, 2000, Etnis Cina, dalam Potret Pembauran Indonesia, Prestasi Insan Indonesia, Jakarta.
- Barth Frederik, 1988, Kelompok Etnik dan Batasannya, Penerbit Universitas Indonesia UI Press, Jakarta.
- Haviland, William, A, 1999, Antropologi (Jilid 1), Penerbit Erlangga, Jakarta.
- Salim, Agus, Dr., MS, Stratifikasi Etnik Kajian Mikro Sosiologi Interaksi Etnis Jawa dan Cina, Fak. Ilmu Pendidikan (FIP) Jurusan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang (UNES) dan Tiara Wacana.
- Sztompka, Piotr, 2005, Sosiologi Perubahan Sosial, Prenada, Media Jakarta.

Sinopsis DATU MUSENG DAN MAIPA DEAPATI

Jenis : Sastra Drama/ Teater
Penulis : Mahfud Ramli
Pertunjukan Oleh:
Teater TAMBORA Makassar
Sutradara :
Rudy Barsit – Kadir Sila
Pertunjukan:
25-26 Oktober 2008
Di Gedung Kesenian Sulawesi Selatan


Kisah ini berangkat dari cerita rakyat yang sangat popular di kalangan masyarakat suku Makassar. Cerita ini dituturkan oleh orang-orang tua kepada anak cucu mereka agar mendapatkan hikmah dan pendidikan kejuangan dan kesetiaan.
Kisah ini menceriterakan percintaan antara Datu Museng dan Maipa Deapati. Datu Museng adalah putra bangsawan dari Kerajan Gowa yang jatuh cinta kepada Maipa Deapati Putri bangsawan Kerajaan Sumbawa.
Perjumpaan mereka di rumah rumah nenek/Kakek Datu Museng Adearangang. Karena keduanya belajar mengaji di tempat itu. Datu Museng dengan berani menyatakan isi hatinya dan langsung melamar Maipa dengan jalan mengambil cincin gadis pujaan itu dan memasang di jari manisnya.
Meski demikian tidak berarti cinta Datu Museng dapat berjalan mulus, karena keluarga Istana Sumbawa memingit Maipa dengan sangat ketatnya. Bahkan telah menjodohkan Maipa dengan sepupunya yang bernama Karaeng Mangalasa. Datu Museng dan Maipa Deapati tidak dapat bertemu secara bebas lagi.
Melihat tantangan yang begitu berat Datu Museng memutuskan pergi mencari ilmu yang dapat digunakannya untuk mendapatkan Maipa. Maka Datu Museng kerangkat ke Tanah Suci Mekah. Di sanalah dia berguru dan mendapatkan ilmu “Bunga Ejana Madina”.
Dalam semua pesta di gelar permainan raga dan pada saat itu Datu Museng tampil mempertunjukkan kemahirannya bermain raga sekaligus ilmu yang dimilikinya. Raga yang disepaknya melambung tinggi dan meloncat masuk ke kamar Maipa dan menemuiny di sana. Bola raga itulah yang menjadi penyabung rindu keduanya.
Karena rindu yang tak tertahankan akhirnya mereka memutuskan untuk lari bersama ke tanah seberang, ke Makassar. Atas bantuan kakeknya, Adearangang keduanya melarikan diri ke Makassar. Di daerah inilah mereka membangun rumah tangganya.
Di Makassar tantangan lain datang lagi. Pemerintah Belanda yang bergelar Tumlompoa yang berkuasa tidak senang atas kehadiran Datu Museng. Bahkan Pimpinan Belanda tertarik pada kecantikan Maipa Deapati dan ingin mempersuntingnya. Akan tetapi mereka tidak mudah mengalahkan Datu Museng yang senantiasa melindungi dan menjaga Maipa.
Akan tetapi Belanda tak berputus asa ia menyerang Datu Museng dengan sangat gencar siang dan malam sampai pada akhirnya Datu Museng dan Maipa Deapati membuat keputusan untuk tetap bersama dalam hidup dan mati. Maipa tidak rela mati di tangan Belanda, tetapi hanya ingin menemui ajalnya di tangan suami yang dicintainya. Sehingga ketika pagi menjelang di hari berikutnya, ia mempersilahkan Datu Museng untuk menusukkan keris/badiknya ke lehernya dan Datu Musengpun melepaskan jimat kekebalannya sebelum menghadapi pasukan Belanda. Akhirnya Datu Musengpun gugur di medan laga.

(INGIN MEMPEROLEH NASKAH LENGKAPNYA HUBUNGI EMAIL BLOG INI)

Drama ASOKA Karya: Shaifuddin Bahrum

Sinopsis
Raja Asoka yang Agung adalah penguasa Kerajaan Maurya yang termasyhur karena keuletan dan kekuasaannya ia berhasil meluaskan daerahnya. Pada awalnya Asoka dikenal sebagai raja yang gemar berperang, dan selalu haus darah. Ia tidak segan-segan untuk membunuh. Ketika ia ingin naik tahta menjadi raja Maurya ia terlebih dahulu membunuh semua saudara-saudaranya termasuk Sasham yang juga sangat berambisi.
Ia bahkan juga memerangi kerajaan Kalingga tanpa alas an yang kuat.
Namun pada akhirnya ia tersadar akan apa yang diperbuatnya dan ingin menjadi pengayom, pencinta bagi semua anak manusia.

Prolog
KERAJAAN MAURYA YANG DAMAI TIBA-TIBA DILANDA KETEGANGAN. PARA PUTRA RAJA BINDUSWARA SALING BERSITEGANG. MASING-MASING INGIN MENDUDUKI TAHTA. ASOKA SALAH SATU PUTRA RAJA BINDUSWARA JUGA MEMILIKI HAK UNTUK DUDUK DI SINGGA SANA ITU. AKAN TETAPI DIPIHAK LAIN SUSHIM SAUDARANYA JUGA MEMILIKI AMBISI YANG CUKUP BESAR. SUSHIM MENDAPAT DUKUNGAN DARI SAUDARA-SAUDARANYA YANG LAIN.
UNTUK MENGHINDARI KONFLIK BERDARAH MAKA IBU ASOKA MEMINTA ANAKNYA UNTUK MENINGGALKAN MAURYA. ASOKA PERGI MENGASINGKAN DIRI. DI TEMPAT PENGASINGANNYA IA BERKENALAN DENGAN PANGERAN ARYA PUTRA RAJA KALINGGA DAN KAUWARKI PENGASUHNYA. KAUWARKI KEMUDIAN DIPERISTRI OLEH ASOKA.
NAMUN SUATU KETIKA ASOKA DIPANGGIL KEMBALI KE NEGERINYA UNTUK MEMPERKUAT PASUKAN MAGADHA DAN MELAWAN LAWAN-LAWANNYA. DALAM SATU PEPERANGAN ASOKA TERLUKA PARAH SEHINGGA IA HARUS DI RAWAT DI SEBUAH KAMPUNG. DISANALAH I BERTEMU DEWI DAN SEORANG PENDETA BUDHA. DEWI KEMUDIAN DIKAWININYA.
SEKEMBALINYA DIKERAJAANNYA ASOKA MENANTANG SAUDARA-SAUDARANYA YANG BERAMBISI UNTUK MENDUDUKI TAHTA KERAJAAN LALU KEMUDIAN TERJADILAH PERANG SAUDARA. KEMENANGAN BERADA DITANGAN ASOKA DAN SAUDARA-SAUDARANYA HARUS MATI DI UJUNG “PEDANG DURJANA” ASOKA. MAURYA MENEMUKAN RAJA BARUNYA.

(JIKA INGIN MENDAPATKAN NASKAH LENGKAPNYA DAPAT MENGHUBUNGI EMAIL BLOG INI)

Drama ASOKA Karya: Shaifuddin Bahrum

Sinopsis
Raja Asoka yang Agung adalah penguasa Kerajaan Maurya yang termasyhur karena keuletan dan kekuasaannya ia berhasil meluaskan daerahnya. Pada awalnya Asoka dikenal sebagai raja yang gemar berperang, dan selalu haus darah. Ia tidak segan-segan untuk membunuh. Ketika ia ingin naik tahta menjadi raja Maurya ia terlebih dahulu membunuh semua saudara-saudaranya termasuk Sasham yang juga sangat berambisi.
Ia bahkan juga memerangi kerajaan Kalingga tanpa alas an yang kuat.
Namun pada akhirnya ia tersadar akan apa yang diperbuatnya dan ingin menjadi pengayom, pencinta bagi semua anak manusia.

Prolog
KERAJAAN MAURYA YANG DAMAI TIBA-TIBA DILANDA KETEGANGAN. PARA PUTRA RAJA BINDUSWARA SALING BERSITEGANG. MASING-MASING INGIN MENDUDUKI TAHTA. ASOKA SALAH SATU PUTRA RAJA BINDUSWARA JUGA MEMILIKI HAK UNTUK DUDUK DI SINGGA SANA ITU. AKAN TETAPI DIPIHAK LAIN SUSHIM SAUDARANYA JUGA MEMILIKI AMBISI YANG CUKUP BESAR. SUSHIM MENDAPAT DUKUNGAN DARI SAUDARA-SAUDARANYA YANG LAIN.
UNTUK MENGHINDARI KONFLIK BERDARAH MAKA IBU ASOKA MEMINTA ANAKNYA UNTUK MENINGGALKAN MAURYA. ASOKA PERGI MENGASINGKAN DIRI. DI TEMPAT PENGASINGANNYA IA BERKENALAN DENGAN PANGERAN ARYA PUTRA RAJA KALINGGA DAN KAUWARKI PENGASUHNYA. KAUWARKI KEMUDIAN DIPERISTRI OLEH ASOKA.
NAMUN SUATU KETIKA ASOKA DIPANGGIL KEMBALI KE NEGERINYA UNTUK MEMPERKUAT PASUKAN MAGADHA DAN MELAWAN LAWAN-LAWANNYA. DALAM SATU PEPERANGAN ASOKA TERLUKA PARAH SEHINGGA IA HARUS DI RAWAT DI SEBUAH KAMPUNG. DISANALAH I BERTEMU DEWI DAN SEORANG PENDETA BUDHA. DEWI KEMUDIAN DIKAWININYA.
SEKEMBALINYA DIKERAJAANNYA ASOKA MENANTANG SAUDARA-SAUDARANYA YANG BERAMBISI UNTUK MENDUDUKI TAHTA KERAJAAN LALU KEMUDIAN TERJADILAH PERANG SAUDARA. KEMENANGAN BERADA DITANGAN ASOKA DAN SAUDARA-SAUDARANYA HARUS MATI DI UJUNG “PEDANG DURJANA” ASOKA. MAURYA MENEMUKAN RAJA BARUNYA.

Caleg di Hati Masyarakat

Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) seperti sekarang ini banyak caleg yang memajang foto-foto mereka di sudut jalan di kampung-kampung maupun di kota. Tujuannya adalah memberikan informasi kepada masyarakat bahwa dirinya juga maju sebagai calon legislatif melalui partai tertentu.
Tentu saja ratusan wajah yang setiap saat dapat kita temui itu tidak dapat kita ingat semua. Meskipun ada beberapa gambar yang setiap saat kita lihat wajahnya dan kita baca namanya. Tapi karena kita tidak pernah memiliki kesan kuat terhadap wajah-wajah dalam baliho itu maka tentunya tidak akan besar pengaruhnya nanti pada saat Pemilu.
Dalam pengalaman keseharian, hampir setiap hari kita bertemu dengan berbagai manusia dalam kehidupan kita. Sebagian orang-orang tersebut telah kita kenal, sebagian kita baru mengenalnya, dan sebagian lagi sama sekali tidak kita kenal. Sebagian kecil yang sudah kita kenal masuk ke dalam kesadaran dan ingatan-ikatan kita secara akrab, namun sebagiannya lagi terapung-apung yang kadang muncul dan kadang tenggelam dalam lupa kita.
Orang yang kita kenal dan melakat dalam kesadaran dan ingatan tersebut adalah mereka yang pernah memberi sesuatu kesan yang berarti. Ada kenalan yang memberi kesan baik sehingga kita selalu mengingatnya dengan penuh bahagia, tetapi tidak sedikit kenalan yang memberikan kesan buruk kepada kita sehingga kita mengenangnya dengan penuh keresahan dan kegusaran. Kedua-duanya mengisi ruang-ruang kesadaran kita dan bahkan kadang menyelusup masuk ke alam mimpi-mimpi kita.
Orang-orang yang telah masuk dalam ruang-ruang kesadaran dan mimpi kita dengan mudah kita ingat kesan dengan segala kenangannya. Akan tetapi mereka yang tidak pernah memberi kesan hanya akan melayang-layang di depan mata tanpa arti. Meskipun kita bertemu berulang-ulang kali muncul di depan mata kita. Akan tetapi seseorang yang pernah kita lawan bertinju, berdebat, atau seorang anak kecil yang pernal memecahkan kaca jendela rumah kita dengan lemparan baru akan melekat dalam ingatan. Apa lagi kekasih yang dulu menemani berjalan dalam rinai hujan sambil bergandengan tangan atau pacar yang dulu membuat kita patah hati pasti akan kita kenang dalam kehidupan kita.
Jadi bagi yang penting bagi banyak caleg sesungguhnya bukan poster atau baliho yang sangat penting dalam upaya meraih suara dalam pemilu nanti, akan tetapi adalah apakah mereka sudah memberi kesan baik kepada masyarakat. Sehingga wajahnya sudah tertinggal dalam kenangan dan impian. Tetapi jika hanya sekadar memasang poster dan baliho untuk mempopulerkan wajahnya maka kecil kemungkinan ia akan memperoleh suara yang cukup yang akan mengantarnya ke kursi legislatif.
Karena ingin meninggalkan kesan yang baik kepada masyarakat maka banyak celeg yang salah kapra. Mereka datang ke tengah masyarakat lalu membagi-bagikan uangnya atau paling tidak dalam bentuk sembako. Cara memberi kesan seperti ini sangat instan dan mungkin juga kurang efektif. Karena semuanya sudah serba dadakan dan kesannya hanya menyentuh permukaan saja.
Sesungguhnya kalau mereka sudah menyiapkan diri mereka sejak awal tentu upaya memberi kesan itu sudah dilakukan sejak awal dan tidak perlu mengeluarkan dana mendadak yang jumlahnya cukup besar. Jika caleg yang kesannya sudah melekat di hati masyarakat maka ia akan dipilih dengan senang hati (udin bahrum).

Esai

CALEG DI HATI MASYARAKAT

Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) seperti sekarang ini banyak caleg yang memajang foto-foto mereka di sudut jalan di kampung-kampung maupun di kota. Tujuannya adalah memberikan informasi kepada masyarakat bahwa dirinya juga maju sebagai calon legislatif melalui partai tertentu.
Tentu saja ratusan wajah yang setiap saat dapat kita temui itu tidak dapat kita ingat semua. Meskipun ada beberapa gambar yang setiap saat kita lihat wajahnya dan kita baca namanya. Tapi karena kita tidak pernah memiliki kesan kuat terhadap wajah-wajah dalam baliho itu maka tentunya tidak akan besar pengaruhnya nanti pada saat Pemilu.
Dalam pengalaman keseharian, hampir setiap hari kita bertemu dengan berbagai manusia dalam kehidupan kita. Sebagian orang-orang tersebut telah kita kenal, sebagian kita baru mengenalnya, dan sebagian lagi sama sekali tidak kita kenal. Sebagian kecil yang sudah kita kenal masuk ke dalam kesadaran dan ingatan-ikatan kita secara akrab, namun sebagiannya lagi terapung-apung yang kadang muncul dan kadang tenggelam dalam lupa kita.
Orang yang kita kenal dan melakat dalam kesadaran dan ingatan tersebut adalah mereka yang pernah memberi sesuatu kesan yang berarti. Ada kenalan yang memberi kesan baik sehingga kita selalu mengingatnya dengan penuh bahagia, tetapi tidak sedikit kenalan yang memberikan kesan buruk kepada kita sehingga kita mengenangnya dengan penuh keresahan dan kegusaran. Kedua-duanya mengisi ruang-ruang kesadaran kita dan bahkan kadang menyelusup masuk ke alam mimpi-mimpi kita.
Orang-orang yang telah masuk dalam ruang-ruang kesadaran dan mimpi kita dengan mudah kita ingat kesan dengan segala kenangannya. Akan tetapi mereka yang tidak pernah memberi kesan hanya akan melayang-layang di depan mata tanpa arti. Meskipun kita bertemu berulang-ulang kali muncul di depan mata kita. Akan tetapi seseorang yang pernah kita lawan bertinju, berdebat, atau seorang anak kecil yang pernal memecahkan kaca jendela rumah kita dengan lemparan baru akan melekat dalam ingatan. Apa lagi kekasih yang dulu menemani berjalan dalam rinai hujan sambil bergandengan tangan atau pacar yang dulu membuat kita patah hati pasti akan kita kenang dalam kehidupan kita.
Jadi bagi yang penting bagi banyak caleg sesungguhnya bukan poster atau baliho yang sangat penting dalam upaya meraih suara dalam pemilu nanti, akan tetapi adalah apakah mereka sudah memberi kesan baik kepada masyarakat. Sehingga wajahnya sudah tertinggal dalam kenangan dan impian. Tetapi jika hanya sekadar memasang poster dan baliho untuk mempopulerkan wajahnya maka kecil kemungkinan ia akan memperoleh suara yang cukup yang akan mengantarnya ke kursi legislatif.
Karena ingin meninggalkan kesan yang baik kepada masyarakat maka banyak celeg yang salah kapra. Mereka datang ke tengah masyarakat lalu membagi-bagikan uangnya atau paling tidak dalam bentuk sembako. Cara memberi kesan seperti ini sangat instan dan mungkin juga kurang efektif. Karena semuanya sudah serba dadakan dan kesannya hanya menyentuh permukaan saja.
Sesungguhnya kalau mereka sudah menyiapkan diri mereka sejak awal tentu upaya memberi kesan itu sudah dilakukan sejak awal dan tidak perlu mengeluarkan dana mendadak yang jumlahnya cukup besar. Jika caleg yang kesannya sudah melekat di hati masyarakat maka ia akan dipilih dengan senang hati (udin bahrum).

Senin, 09 Februari 2009

METAMORFOSIS WARGA TIONGHOA DALAM POLITIK Oleh: Shaifuddin Bahrum

Warga Tionghoa di Makassar kini bukan lagi warga Tionghoa 10 tahun yang lalu. Warga yang senantiasa diliputi rasa ketakutan dan was-was dan hidup dalam tekanan sosial, budaya dan politik. Setelah reformasi warga Tionghoa khususnya di Makassar telah bermetamorfosis menjadi masyarakat Indonesia sepenuhnya baik secara pisik maupun secara psikologis.
Khusus dalam dunia politik, selama pemerintahan Orde Baru mereka sama sekali tidak bisa melangkahkan kakinya masuk ke ruang itu. Selain mereka di batasi oleh berbagai aturan terutama Undang-undang (UU) Kewarganegaraan, juga mereka memiliki trauma yang sangat dalam. Sehingga politik adalah yang mereka haramkan yang mereka wariskan secara turun temurun, meskipun mungkin mereka sangat mengimpikannya.
Undang-undang Kewarganegaraan yang lama mempersulit orang Tionghoa untuk terlibat dalam dunia Politik karena UU tersebut tidak mengakui secara juridis warga Keturunan Tionghoa sebagai warga negara, terkecuali mereka mengurusnya dan berupaya memperoleh Surat Keterangan Berkebangsaan Republik Indonesia (SKBRI) dengan harga yang sangat mahal. Karena mereka tidak di akui sebagai warga negara maka mereka tidak bisa terlibat dalam hal yang bersentuhan dengan negara. Termasuk tidak bisa menjadi pegawai negeri, menjadi tentara dan polisi, menjadi anggota partai, anggota legislative, bupati, walikota, gubernur, terlebih lagi menjadi menteri, presiden maupun wakil presiden.
Padahal dalam masyarakat Tionghoa terdapat potensi-potensi dengan kualitas yang baik untuk menduduki jabatan-jabatan/ pekerjaan tersebut. Akhirnya mereka bertumpuk menjadi pedagang dan pengusaha. Setiap hari mereka berpikir soal keuntungan ekonomi yang mereka bisa peroleh, sambil memperkaya diri. Selama 32 tahun lamanya mereka tidak mendapat kesempatan untuk ikut memikirkan nasib dan kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia di mana mereka sebagian besar sudah lahir di negeri ini.
Kalau pun ada yang sempat ikut nimrung bicara soal bangsa mereka langsung dipelototi dengan pandangan penuh rasa curiga. Mereka dicurigai karena dianggap bukan WNI. Warga Tionghoa ketika itu seakan-akan tidak punya hak untuk memikirkan Indonesia.
Akhirnya mereka yang berkeras untuk menyumbangkan pikirannya untuk kemajuan bangsa bersembunyi di belakang layar atau bertindak frontal dan kemudian menjadi musuh pemerintah.
Namun Periode akhir pemerintahan Orde Baru sebelum tumbang (1998), Bob Hasan sudah masuk dalam kabinet pemerintahan Soeharto. Lalu kemudian dalam kabinet selanjutnya setelah reformasi bermunculanlah pigur-pigur Tionghoa lainnya. Tidak hanya di kabinet tetapi juga dalam parlemen.
Pada Pemilu 1999 masyarakat Tionghoa Indonesia membentuk partai-partai yang eksklusif Tionghoa yakni Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (PRTI), dan Partai Bhineka Tunggal Ika. Meskipun kedua partai ini secara perlahan-lahan ditolak sendiri oleh banyak kalangan dalam masyarakat Tionghoa. Karena mereka tidak lagi ingin terkesan eksklusif dan masih dibayangi oleh kasus Baperki.
Tokoh-tokoh Tionghoa yang mau terjun ke dunia politik lebih baik memilih partai-partai nasional, seperti Golkar, PDIP, PAN, dan lain-lain sebagainya. Hal ini mereka lakukan untuk menunjukkan bahwa mereka mau berbaur dan lebur dengan saudara mereka yang lain. Beberapa di antaranya terpilih menjadi legislator dan berkantor di DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.
Warga Tionghoa juga sudah mulai turut aktif terlibat dalam Pilkada menjadi calon gubernur dan bupati/ walikota. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Tionghoa sudah mulai menemukan jati dirinya dalam dunia politik dan pemerintahan.
Jumlah warga Tionghoa yang terlibat dalam dunia politik semakin meningkat hal ini terlihat di Makassar. Pada Pemilu 1999 orang Tionghoa yang terlibat sebagai caleg hanya dua orang, tetapi pada Pemilu 2004 tercatat 12 orang, sementara menghadapi Pemilu 2009 terdapat 24 orang Tionghoa yang terdaftar di berbagai partai politik sebagai caleg.
Secara perlahan-lahan masyarakat Tionghoa menemukan ruangnya dalam dunia politik dengan membangkitkan keberaniannya untuk menghalau segala trauma dan rasa takutnya pada masa orde baru yang lalu. Kehadiran mereka dalam dunia politik juga menunjukkan rasa cinta mereka yang besar kepada Tanah Air Indonesia.
Masyarakat Tionghoa mempunyai peluang dan harapan besar dalam dunia politik karena selain mereka kebanyakan bukan pegawai negeri, mereka pun ditunjang oleh pinansial yang relatif cukup untuk membiayai proses menuju kursi legislative. Kemampuan SDM mereka pun dapat diasah melalui proses pembelajaran.