Jumat, 19 Maret 2010

Jaring Aku di Sini



Aku tahu, tak kan sampai padaMu,
namun hasrat terlanjur berlari lebih jauh.
Lewati badai yang menjemput
digerbang senja sambil melambaikan selendang bianglala.
Aku tak kuat membiarkan tanganmu
yang terus melambai memanggilku,
sambil mengusap air mata yang mulai kering
yang bakal kujadikan pertapaan
menembus segala duka.

Selasa, 09 Maret 2010

PUISI DAN FOTO PERJALANAN

SEUSAI PESTA

Pesta kehilangan keriangannya

Ketika kukecup peluh dipunggungmu

Sehabis kau teguk secawan anggur yang merah

Dalam kenikmatan sepanjang malam.

Belum lagi usai kisah-kisah kemarin

yang kau tapaki penuh lumpur

sementara melati yang terabaikan

kau petih sekeranjang penuh

lalu kau hiasi tidur panjang kita

Sambil berpelukan dengan mimpi seabad lagi





PERCAKAPAN TANPA BAYANG

Ini adalah bahasa kita

Yang tak pernah tersentuh api yang jadikan debu

Tapi kau paham bagaimana sejukkan jiwa dengan cinta

Meski gelap telah mengepung hidup tanpa harap

Ini adalah percakapan kita

Yang diam-diam diintai cahaya dalam kegelapan

Tapi kau tahu bagaimana sembunyikan harap penuh kasih

Semantara impian kau terbangkan kelangit tanpa batas

Aku hanya bisa memandangmu dengan bahasa diam

Karena kata telah kau hapuskan dengan tatap matamu

Yang menenggelamkanku ke dasar samudra air mata

Sambil kau bakar dadaku dengan api amarah dan cinta




KAKI LANGIT

Kupagut cahaya pada langit

Dan kurangkai dalam bingkai sepi

Menunggu hari akan tenggelam

Dengan cahaya tembaga di kakinya

Atau usapan kasih di ubun-ubun

Sekali lagi kau nyanyikan kidung rindu

Dalam tiupan angin yang sepoi tiba

Sambil berkaca pada langit

Yang sebentar lagi akan jadi hitam

Di sini di kaki langit tempat kita kemarin bercumbu

Menunggumu sekali lagi, dalam senja yang merona.



Levi-Strauss dan Bank Century

Shaifuddin Bahrum


Bagi mereka yang belajar filsafat, sosiologi, antropologi, linguistik, bahkan mereka yang menggeluti ilmu geologi, juga pasti akan mengenal nama Livi-Strauss. Nama lengkapnya Claude Levi-Strauss yang meninggal dunia di Paris akhir Oktober 2009 lalu dalam usia 100 tahun. Dia adalah tokoh yang melahirkan teori Strukturalisme, tanpa ada kaitannya dengan Levi-Strauss yang mengenalkan jenis tekstil jeans.

Pemikiran utama dalam Struktulisme Levi-Strauss adalah meletakkan manusia sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya otonom pada dirinya (sebagai subjek), tetapi ia terkait dengan berbagai unsur lainnya, baik unsur dalam (internal) maupun unsur lain di luar (external) dirinya. Dalam ilmu geologi ia menjelaskan permukaan bumi yang tampak rata atau berbukit terkait dengan unsur-unsur yang saling topang-menopang membuat lapisan-lapisan atau lempengan material di bawahnya.

Tampakan permukaan bumi tidak cukup dijelaskan apa yang ada di atas tanah tanpa melihat struktur yang terkait di bawahnya. Permukaan yang datar atau yang melengkung tentunya adalah pengaruh dari lapisan-lapisan bebatuan yang memiliki ketebalannya masing-masing. Jika terjadi gempa dan menimbulkan bencana dipermukaan bumi maka ahli geologi akan pula menjelaskan bagaimana lapisan-lapisan bumi itu bergerak dan dalam jangka waktu berapa lama gerakan-gerakan lapis bumi itu terjadi.

Menjelaskan sebuah bangun struktur menurut Levi-Strauss tidak hanya cukup menjelaskan bagian-bagian yang ada dalam bangunan itu, akan tetapi jauh lebih penting untuk menjelaskan kaitan-kaitan atau hubungan-hubungan antar bagian tersebut. Hanya dengan demikian maka dapat ditemukan kejelasan bagaimana pentingnya sebuah unsur dalam sebuah bangun struktur.

* * *

Sejak pertengahan 2009 yang lalu hingga bagian awal tahun 2010, masyarakat Indonesia asyik mengukuti perjalanan kasus build out (dana talangan) Bank Centuri yang diawali dengan episode Sang Penegak Hukum Antasari yang dipenjara karena kasus pembunuhan dan pertarungan antara “Cicak dan Buaya”. Bahkan dalam rating acara televisi penyiaran masalah ekonomi perbankan ini telah melampaui acara-acara menarik lainnya seperti sinetron atau acara hiburan yang memajang artis-artis tampan, cantik, dan seksi dengan pakaian agak terbuka. Tampaknya Kasus bank Century ini selain kita asyik mengikuti alur cerita yang kadang tidak linear, akan tetapi kita sering dijebak dengan ketegangan-ketegangan yang kadang berakhir dengan banyolan yang segar.

Tokoh-tokok seperti Anggodo, Susno Duaji, Sri Mulyani, Budiono, dan sederet nama lainnya menarik perhatian masyarakat Indonesia dan dunia. Tokoh-tokoh ini memainkan perannya masing-masing dengan sangat menarik. Lalu di sisi lain sejumlah anggota Pansus DPR RI juga memerankan carakter yang lain dengan peran masing-masing anggotanya yang sangat memukau penontonnya.

Melalui pengungkapan kasus Bank Century yang secara terbuka ini kita kemudian seolah-olah menyaksikan sebuah peta Indonesia yang compang camping dan tercarut marut. Baik dari sisi ekonomi, politik, dan hokum. Bahkan dari sisi budaya dan kemanusiaannya pun sudah luka parah.

Kasus bank Century dapat dipandang sebagai permukaan awal dari gejala gempa bumi yang diimsalkan oleh Strukturalism Levi-Strauss. Guncangan yang diakibatkan oleh buildout Bank Centuri ini tidak dapat dilepaskan dari sejumlah penjelasan dengan banyak unsur yang terkait dengan masalah tersebut. Bahkan kemudian kasus ini dapat menjelaskan bagaimana buruknya hubungan unsur-unsur dalam tata kenegaraan dan kebangsaan kita.

Ketika menyelami persoalan di atas maka muncul dipermukaan adalah ternyata semua hal di negeri bisa diatur dengan uang, dan bahkan ada orang-orang tertentu yang bisa merampok uang milik negara dengan sangat lihainya, banyak pejabat Negara yang bisa dihitung harganya, sehingga para nasabahpun akan berteriak-teriak karena uangnya yang cukup besar jumlahnya khawatir tidak kembali lagi. Mungkin juga kasus ini akan menjelaskan bagaimana negara ini dapat bertahan pada posisi atas dalam daftar negara-negara korup. Kasus ini juga dapat menjelaskan bagaimana tingkat kemiskinan di negeri ini tidak dapat kita tekan ke level yang lebih rendah. (dari berbagai sumber)

Senin, 08 Maret 2010

Mengenal Lebih Dekat,

HINDU TO LOTANG DI AMPARITA, SIDRAP
Shaifuddin Bahrum

Bergegas menuju Perrinyameng, membawa sesajian dibalik sarung mereka berwarna merah.

Abad ke 17, Islam menjadi agama resmi di hampir semua kerajaan di Sulawesi Selatan, tidak terkecuali Kerajaan Wajo (1610). Ketika mengislamkan negeri Wajo maka dengan serta merta Matoa Wajo ketika itu langsung mengistruksikan kepada rakyatnya untuk memeluk agama yang baru tersebut. Namun tidak semua rakyat Wajo mematuhi perintah rajanya itu . Sekelompok masyarakat yang tinggal di kampung Wani ingin mempertahankan kepercayaan yang sudah dianutnya secara turun temurun sejak nenek moyangnya. Mereka enggan beralih kepercayaan, meskipun itu sudah menjadi perintah raja.
Melihat pembangkangan orang Wani maka Matoa Wajo mengusir orang-orang tersebut keluar dari kampungnya, dan tidak memperbolehkan mereka tinggal dalam wilayah kerajaan Wajo. Orang-orang Wani kemudian keluar meninggalkan kampungnya secara bersama-sama. Mereka terbagi atas dua rombongan yang dipimpin oleh I Paqbere dan I Goliga.
Setelah berhari-hari berjalan ia melewati beberapa kerajaan di luar Wajo dan meminta untuk bermukin di wilayah tersebut akan tetapi tak ada yang memberinya lahan, lantaran kerajaan-kerajaan Bugis waktu itu sudah menerima Islam. Akhirnya orang-orang Wani ini memasuki wilayah Kerajaan Amparita yang merupakan bagian Kerajaan Sidenreng. Raja di kerajaan Sidenreng bergelar Addatuang. Orang-orang Wani pun yang sudah kelelahan dan kelaparan setelah berjalan berhari-hari meminta izin kepada raja agar diperbolehkan tinggal di daeranya.

Berangkat satu keluarga.


Meskipun Kerajaan Sidenreng sudah memeluk Islam (1609) setahun lebih dulu dari Kerajaan Wajo akan tetapi Addatuang Sidenreng berbaik hati memberikan tempat tinggal di bagian selatan kerajaan ini yang berada dalam wilayah kerajaan kecil Amparita. Pada waktu itu meskipun orang Amparita sudah memeluk agama Islam akan tetapi masih banyak juga yang masih tetap mempertahankan kepercayaan lama mereka yang animism dan dinamisme. Agama Islam diterima sebagai perintah raja, sehingga dalam kehidupan mereka tidak melaksanakan syariat yang diajarkan dalam agama Islam. Kelompok ini bertempat tinggal di sebelah selatan jalan raya (benteng) dalam kerajaan.
Orang-orang yang bertempat tinggal di bagian selatan kerajaan Sidenreng dan Amparita di sebut sebagai Tolotang (to = orang, lotang = selatan). Orang To Lotang dikenal dua kelompok. Kelompok pertama adalah Tolotang Towani dan Kedua adalah Tolotang Benteng yang menganut agama Islam.
Tolotang Towani yang diterima di Amparita tidak di perintahkan untuk memeluk agama Islam akan tetapi diperintahkan dua hal yakni: untuk menghargai penganut agama Islam dan agar melaksanakan pengurusan kematian dan perkawinannya secara Islam. Kedua hal tersebut diterima dengan baik oleh kaum pendatang tersebut.
Pada awalnya mereka dapat hidup secara damai dengan masyarakat di sekelilingnya, namun kemudian terjadi berbagai intimidasi yang diakukan oleh berbagai pihak. Baik dari kalangan pemerintakan/ kerajaan maupun dari kaum agamawan (Islam). Akan tetapi Towani tetap bertahan pada keyakinannya dan melaksanakan berbagai upacara-upacara ritualnya.
Sejak tahun 1966, kepercayaan orang Tolotang kemudian di akui sebagai salah satu agama setelah ia terdaftar sebagai salah satu sekte dalam agama Hindu. Pengakuan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Beragama Hindu Bali dan Budha, No.2 Tahun 1966, tertanggal 6 Oktober 1966. Surat Keputusan tersebut di sempurnakan kemudian dengan Surat Keputusan No. 6 Tahun 66, tertanggal 16 Desember 1966.
Sebagai sebuah agama yag resmi diakui oleh Negara maka orang To Lotang kemudian sudah dapat melakukan berbagai upacara ritualnya secara terbuka. Upacara-upacara tersebut antara lain: Upacara Sipulung, Tudang Sipulung, Mappenreq Nanre, dan lain lain sebagainya. Setiap tahun selalu saja ada upacara yang digelar di daerah Amparita dan sekitarnya, misalnya di Otting dan Bacukiki (masuk wilayah Kota Pare-pare).

Umat Hindu To Lotang Hikmad mengikuti upacara Ritual Sipulung di Perrinyameng


Upacara Sipulung

Salah satu upacara yang cukup besar adalah upacara Sipulung. Upacara ini jika diterjemahkan akan berarti berkumpul. Acara ini dilaksanakan setiap tahun, dan waktunya ditentukan dalam sidang adat (tudang sipulung) yang dihadiri oleh para Uwaq dan pemuka masyarakat lainnya.
Acara Sipulung pada tahun ini (2010) dilaksanakan pada 24 Januari yang lalu. Masyarakat penganut Hindu To Lotang yang mengikuti acara ini diperkirakan berjumlah 20 ribu orang yang datang dari berbagai daerah di daerah Sidrap dan bhkan dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain umat Hindu To Lotang, juga hadir sejumlah undangan antara lain Muspida Kabupaten Sidrap, anggota DPRD Sidrap, Ketua dan Pengurus Parisada Hindu Dharma Sulawesi Selatan, dan lain-lainnya. Panitia sengaja mengundang para pejabat tersebut hadir dalam acara ini sebagai suatu persaksian dan keikut sertaan mereka dalam upacara tersebut.

Dari Kiri Ke kanan: La Panca (Tokoh Masyarakat To Lotang, Anggota DPRD Sidrap), Dharmayasa (Pengurus Parisada Hindu Dharma Sulsel), Budiana Setiawan (peneliti Depbudpar RI), A. Maryam (Peneliti BPSNT Makassar), bersama Penulis.


Berbagai tahapan dilakukan oleh masyarakat To Lotang dalam menyambut upacara ritual tersebut. Puncak acara adalah ziarah dan upacara ritual ke Makam I Paqbere di Desa Perrinyameng, Kelurahan Amparita. Para penganut berkumpul dan duduk di atas rumput di bawah rindangnya pepohonan dengan penuh ketenangan dan rasa khikmat mereka mengikuti upacara ritual itu yang dipimpin oleh para Uwaq mereka.
(INFORMASI LEBIH LANJUT BISA DITANYAKAN MELALUI KOMENTAR ATAU LANGSUNG KONTAK VIA TELPN ATAU FASILITAS LAINNYA YANG TERSEDIA).