Selasa, 10 Maret 2009

Sinopsis DATU MUSENG DAN MAIPA DEAPATI

Jenis : Sastra Drama/ Teater
Penulis : Mahfud Ramli
Pertunjukan Oleh:
Teater TAMBORA Makassar
Sutradara :
Rudy Barsit – Kadir Sila
Pertunjukan:
25-26 Oktober 2008
Di Gedung Kesenian Sulawesi Selatan


Kisah ini berangkat dari cerita rakyat yang sangat popular di kalangan masyarakat suku Makassar. Cerita ini dituturkan oleh orang-orang tua kepada anak cucu mereka agar mendapatkan hikmah dan pendidikan kejuangan dan kesetiaan.
Kisah ini menceriterakan percintaan antara Datu Museng dan Maipa Deapati. Datu Museng adalah putra bangsawan dari Kerajan Gowa yang jatuh cinta kepada Maipa Deapati Putri bangsawan Kerajaan Sumbawa.
Perjumpaan mereka di rumah rumah nenek/Kakek Datu Museng Adearangang. Karena keduanya belajar mengaji di tempat itu. Datu Museng dengan berani menyatakan isi hatinya dan langsung melamar Maipa dengan jalan mengambil cincin gadis pujaan itu dan memasang di jari manisnya.
Meski demikian tidak berarti cinta Datu Museng dapat berjalan mulus, karena keluarga Istana Sumbawa memingit Maipa dengan sangat ketatnya. Bahkan telah menjodohkan Maipa dengan sepupunya yang bernama Karaeng Mangalasa. Datu Museng dan Maipa Deapati tidak dapat bertemu secara bebas lagi.
Melihat tantangan yang begitu berat Datu Museng memutuskan pergi mencari ilmu yang dapat digunakannya untuk mendapatkan Maipa. Maka Datu Museng kerangkat ke Tanah Suci Mekah. Di sanalah dia berguru dan mendapatkan ilmu “Bunga Ejana Madina”.
Dalam semua pesta di gelar permainan raga dan pada saat itu Datu Museng tampil mempertunjukkan kemahirannya bermain raga sekaligus ilmu yang dimilikinya. Raga yang disepaknya melambung tinggi dan meloncat masuk ke kamar Maipa dan menemuiny di sana. Bola raga itulah yang menjadi penyabung rindu keduanya.
Karena rindu yang tak tertahankan akhirnya mereka memutuskan untuk lari bersama ke tanah seberang, ke Makassar. Atas bantuan kakeknya, Adearangang keduanya melarikan diri ke Makassar. Di daerah inilah mereka membangun rumah tangganya.
Di Makassar tantangan lain datang lagi. Pemerintah Belanda yang bergelar Tumlompoa yang berkuasa tidak senang atas kehadiran Datu Museng. Bahkan Pimpinan Belanda tertarik pada kecantikan Maipa Deapati dan ingin mempersuntingnya. Akan tetapi mereka tidak mudah mengalahkan Datu Museng yang senantiasa melindungi dan menjaga Maipa.
Akan tetapi Belanda tak berputus asa ia menyerang Datu Museng dengan sangat gencar siang dan malam sampai pada akhirnya Datu Museng dan Maipa Deapati membuat keputusan untuk tetap bersama dalam hidup dan mati. Maipa tidak rela mati di tangan Belanda, tetapi hanya ingin menemui ajalnya di tangan suami yang dicintainya. Sehingga ketika pagi menjelang di hari berikutnya, ia mempersilahkan Datu Museng untuk menusukkan keris/badiknya ke lehernya dan Datu Musengpun melepaskan jimat kekebalannya sebelum menghadapi pasukan Belanda. Akhirnya Datu Musengpun gugur di medan laga.

(INGIN MEMPEROLEH NASKAH LENGKAPNYA HUBUNGI EMAIL BLOG INI)

Drama ASOKA Karya: Shaifuddin Bahrum

Sinopsis
Raja Asoka yang Agung adalah penguasa Kerajaan Maurya yang termasyhur karena keuletan dan kekuasaannya ia berhasil meluaskan daerahnya. Pada awalnya Asoka dikenal sebagai raja yang gemar berperang, dan selalu haus darah. Ia tidak segan-segan untuk membunuh. Ketika ia ingin naik tahta menjadi raja Maurya ia terlebih dahulu membunuh semua saudara-saudaranya termasuk Sasham yang juga sangat berambisi.
Ia bahkan juga memerangi kerajaan Kalingga tanpa alas an yang kuat.
Namun pada akhirnya ia tersadar akan apa yang diperbuatnya dan ingin menjadi pengayom, pencinta bagi semua anak manusia.

Prolog
KERAJAAN MAURYA YANG DAMAI TIBA-TIBA DILANDA KETEGANGAN. PARA PUTRA RAJA BINDUSWARA SALING BERSITEGANG. MASING-MASING INGIN MENDUDUKI TAHTA. ASOKA SALAH SATU PUTRA RAJA BINDUSWARA JUGA MEMILIKI HAK UNTUK DUDUK DI SINGGA SANA ITU. AKAN TETAPI DIPIHAK LAIN SUSHIM SAUDARANYA JUGA MEMILIKI AMBISI YANG CUKUP BESAR. SUSHIM MENDAPAT DUKUNGAN DARI SAUDARA-SAUDARANYA YANG LAIN.
UNTUK MENGHINDARI KONFLIK BERDARAH MAKA IBU ASOKA MEMINTA ANAKNYA UNTUK MENINGGALKAN MAURYA. ASOKA PERGI MENGASINGKAN DIRI. DI TEMPAT PENGASINGANNYA IA BERKENALAN DENGAN PANGERAN ARYA PUTRA RAJA KALINGGA DAN KAUWARKI PENGASUHNYA. KAUWARKI KEMUDIAN DIPERISTRI OLEH ASOKA.
NAMUN SUATU KETIKA ASOKA DIPANGGIL KEMBALI KE NEGERINYA UNTUK MEMPERKUAT PASUKAN MAGADHA DAN MELAWAN LAWAN-LAWANNYA. DALAM SATU PEPERANGAN ASOKA TERLUKA PARAH SEHINGGA IA HARUS DI RAWAT DI SEBUAH KAMPUNG. DISANALAH I BERTEMU DEWI DAN SEORANG PENDETA BUDHA. DEWI KEMUDIAN DIKAWININYA.
SEKEMBALINYA DIKERAJAANNYA ASOKA MENANTANG SAUDARA-SAUDARANYA YANG BERAMBISI UNTUK MENDUDUKI TAHTA KERAJAAN LALU KEMUDIAN TERJADILAH PERANG SAUDARA. KEMENANGAN BERADA DITANGAN ASOKA DAN SAUDARA-SAUDARANYA HARUS MATI DI UJUNG “PEDANG DURJANA” ASOKA. MAURYA MENEMUKAN RAJA BARUNYA.

(JIKA INGIN MENDAPATKAN NASKAH LENGKAPNYA DAPAT MENGHUBUNGI EMAIL BLOG INI)

Drama ASOKA Karya: Shaifuddin Bahrum

Sinopsis
Raja Asoka yang Agung adalah penguasa Kerajaan Maurya yang termasyhur karena keuletan dan kekuasaannya ia berhasil meluaskan daerahnya. Pada awalnya Asoka dikenal sebagai raja yang gemar berperang, dan selalu haus darah. Ia tidak segan-segan untuk membunuh. Ketika ia ingin naik tahta menjadi raja Maurya ia terlebih dahulu membunuh semua saudara-saudaranya termasuk Sasham yang juga sangat berambisi.
Ia bahkan juga memerangi kerajaan Kalingga tanpa alas an yang kuat.
Namun pada akhirnya ia tersadar akan apa yang diperbuatnya dan ingin menjadi pengayom, pencinta bagi semua anak manusia.

Prolog
KERAJAAN MAURYA YANG DAMAI TIBA-TIBA DILANDA KETEGANGAN. PARA PUTRA RAJA BINDUSWARA SALING BERSITEGANG. MASING-MASING INGIN MENDUDUKI TAHTA. ASOKA SALAH SATU PUTRA RAJA BINDUSWARA JUGA MEMILIKI HAK UNTUK DUDUK DI SINGGA SANA ITU. AKAN TETAPI DIPIHAK LAIN SUSHIM SAUDARANYA JUGA MEMILIKI AMBISI YANG CUKUP BESAR. SUSHIM MENDAPAT DUKUNGAN DARI SAUDARA-SAUDARANYA YANG LAIN.
UNTUK MENGHINDARI KONFLIK BERDARAH MAKA IBU ASOKA MEMINTA ANAKNYA UNTUK MENINGGALKAN MAURYA. ASOKA PERGI MENGASINGKAN DIRI. DI TEMPAT PENGASINGANNYA IA BERKENALAN DENGAN PANGERAN ARYA PUTRA RAJA KALINGGA DAN KAUWARKI PENGASUHNYA. KAUWARKI KEMUDIAN DIPERISTRI OLEH ASOKA.
NAMUN SUATU KETIKA ASOKA DIPANGGIL KEMBALI KE NEGERINYA UNTUK MEMPERKUAT PASUKAN MAGADHA DAN MELAWAN LAWAN-LAWANNYA. DALAM SATU PEPERANGAN ASOKA TERLUKA PARAH SEHINGGA IA HARUS DI RAWAT DI SEBUAH KAMPUNG. DISANALAH I BERTEMU DEWI DAN SEORANG PENDETA BUDHA. DEWI KEMUDIAN DIKAWININYA.
SEKEMBALINYA DIKERAJAANNYA ASOKA MENANTANG SAUDARA-SAUDARANYA YANG BERAMBISI UNTUK MENDUDUKI TAHTA KERAJAAN LALU KEMUDIAN TERJADILAH PERANG SAUDARA. KEMENANGAN BERADA DITANGAN ASOKA DAN SAUDARA-SAUDARANYA HARUS MATI DI UJUNG “PEDANG DURJANA” ASOKA. MAURYA MENEMUKAN RAJA BARUNYA.

Caleg di Hati Masyarakat

Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) seperti sekarang ini banyak caleg yang memajang foto-foto mereka di sudut jalan di kampung-kampung maupun di kota. Tujuannya adalah memberikan informasi kepada masyarakat bahwa dirinya juga maju sebagai calon legislatif melalui partai tertentu.
Tentu saja ratusan wajah yang setiap saat dapat kita temui itu tidak dapat kita ingat semua. Meskipun ada beberapa gambar yang setiap saat kita lihat wajahnya dan kita baca namanya. Tapi karena kita tidak pernah memiliki kesan kuat terhadap wajah-wajah dalam baliho itu maka tentunya tidak akan besar pengaruhnya nanti pada saat Pemilu.
Dalam pengalaman keseharian, hampir setiap hari kita bertemu dengan berbagai manusia dalam kehidupan kita. Sebagian orang-orang tersebut telah kita kenal, sebagian kita baru mengenalnya, dan sebagian lagi sama sekali tidak kita kenal. Sebagian kecil yang sudah kita kenal masuk ke dalam kesadaran dan ingatan-ikatan kita secara akrab, namun sebagiannya lagi terapung-apung yang kadang muncul dan kadang tenggelam dalam lupa kita.
Orang yang kita kenal dan melakat dalam kesadaran dan ingatan tersebut adalah mereka yang pernah memberi sesuatu kesan yang berarti. Ada kenalan yang memberi kesan baik sehingga kita selalu mengingatnya dengan penuh bahagia, tetapi tidak sedikit kenalan yang memberikan kesan buruk kepada kita sehingga kita mengenangnya dengan penuh keresahan dan kegusaran. Kedua-duanya mengisi ruang-ruang kesadaran kita dan bahkan kadang menyelusup masuk ke alam mimpi-mimpi kita.
Orang-orang yang telah masuk dalam ruang-ruang kesadaran dan mimpi kita dengan mudah kita ingat kesan dengan segala kenangannya. Akan tetapi mereka yang tidak pernah memberi kesan hanya akan melayang-layang di depan mata tanpa arti. Meskipun kita bertemu berulang-ulang kali muncul di depan mata kita. Akan tetapi seseorang yang pernah kita lawan bertinju, berdebat, atau seorang anak kecil yang pernal memecahkan kaca jendela rumah kita dengan lemparan baru akan melekat dalam ingatan. Apa lagi kekasih yang dulu menemani berjalan dalam rinai hujan sambil bergandengan tangan atau pacar yang dulu membuat kita patah hati pasti akan kita kenang dalam kehidupan kita.
Jadi bagi yang penting bagi banyak caleg sesungguhnya bukan poster atau baliho yang sangat penting dalam upaya meraih suara dalam pemilu nanti, akan tetapi adalah apakah mereka sudah memberi kesan baik kepada masyarakat. Sehingga wajahnya sudah tertinggal dalam kenangan dan impian. Tetapi jika hanya sekadar memasang poster dan baliho untuk mempopulerkan wajahnya maka kecil kemungkinan ia akan memperoleh suara yang cukup yang akan mengantarnya ke kursi legislatif.
Karena ingin meninggalkan kesan yang baik kepada masyarakat maka banyak celeg yang salah kapra. Mereka datang ke tengah masyarakat lalu membagi-bagikan uangnya atau paling tidak dalam bentuk sembako. Cara memberi kesan seperti ini sangat instan dan mungkin juga kurang efektif. Karena semuanya sudah serba dadakan dan kesannya hanya menyentuh permukaan saja.
Sesungguhnya kalau mereka sudah menyiapkan diri mereka sejak awal tentu upaya memberi kesan itu sudah dilakukan sejak awal dan tidak perlu mengeluarkan dana mendadak yang jumlahnya cukup besar. Jika caleg yang kesannya sudah melekat di hati masyarakat maka ia akan dipilih dengan senang hati (udin bahrum).

Esai

CALEG DI HATI MASYARAKAT

Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) seperti sekarang ini banyak caleg yang memajang foto-foto mereka di sudut jalan di kampung-kampung maupun di kota. Tujuannya adalah memberikan informasi kepada masyarakat bahwa dirinya juga maju sebagai calon legislatif melalui partai tertentu.
Tentu saja ratusan wajah yang setiap saat dapat kita temui itu tidak dapat kita ingat semua. Meskipun ada beberapa gambar yang setiap saat kita lihat wajahnya dan kita baca namanya. Tapi karena kita tidak pernah memiliki kesan kuat terhadap wajah-wajah dalam baliho itu maka tentunya tidak akan besar pengaruhnya nanti pada saat Pemilu.
Dalam pengalaman keseharian, hampir setiap hari kita bertemu dengan berbagai manusia dalam kehidupan kita. Sebagian orang-orang tersebut telah kita kenal, sebagian kita baru mengenalnya, dan sebagian lagi sama sekali tidak kita kenal. Sebagian kecil yang sudah kita kenal masuk ke dalam kesadaran dan ingatan-ikatan kita secara akrab, namun sebagiannya lagi terapung-apung yang kadang muncul dan kadang tenggelam dalam lupa kita.
Orang yang kita kenal dan melakat dalam kesadaran dan ingatan tersebut adalah mereka yang pernah memberi sesuatu kesan yang berarti. Ada kenalan yang memberi kesan baik sehingga kita selalu mengingatnya dengan penuh bahagia, tetapi tidak sedikit kenalan yang memberikan kesan buruk kepada kita sehingga kita mengenangnya dengan penuh keresahan dan kegusaran. Kedua-duanya mengisi ruang-ruang kesadaran kita dan bahkan kadang menyelusup masuk ke alam mimpi-mimpi kita.
Orang-orang yang telah masuk dalam ruang-ruang kesadaran dan mimpi kita dengan mudah kita ingat kesan dengan segala kenangannya. Akan tetapi mereka yang tidak pernah memberi kesan hanya akan melayang-layang di depan mata tanpa arti. Meskipun kita bertemu berulang-ulang kali muncul di depan mata kita. Akan tetapi seseorang yang pernah kita lawan bertinju, berdebat, atau seorang anak kecil yang pernal memecahkan kaca jendela rumah kita dengan lemparan baru akan melekat dalam ingatan. Apa lagi kekasih yang dulu menemani berjalan dalam rinai hujan sambil bergandengan tangan atau pacar yang dulu membuat kita patah hati pasti akan kita kenang dalam kehidupan kita.
Jadi bagi yang penting bagi banyak caleg sesungguhnya bukan poster atau baliho yang sangat penting dalam upaya meraih suara dalam pemilu nanti, akan tetapi adalah apakah mereka sudah memberi kesan baik kepada masyarakat. Sehingga wajahnya sudah tertinggal dalam kenangan dan impian. Tetapi jika hanya sekadar memasang poster dan baliho untuk mempopulerkan wajahnya maka kecil kemungkinan ia akan memperoleh suara yang cukup yang akan mengantarnya ke kursi legislatif.
Karena ingin meninggalkan kesan yang baik kepada masyarakat maka banyak celeg yang salah kapra. Mereka datang ke tengah masyarakat lalu membagi-bagikan uangnya atau paling tidak dalam bentuk sembako. Cara memberi kesan seperti ini sangat instan dan mungkin juga kurang efektif. Karena semuanya sudah serba dadakan dan kesannya hanya menyentuh permukaan saja.
Sesungguhnya kalau mereka sudah menyiapkan diri mereka sejak awal tentu upaya memberi kesan itu sudah dilakukan sejak awal dan tidak perlu mengeluarkan dana mendadak yang jumlahnya cukup besar. Jika caleg yang kesannya sudah melekat di hati masyarakat maka ia akan dipilih dengan senang hati (udin bahrum).

Senin, 09 Februari 2009

METAMORFOSIS WARGA TIONGHOA DALAM POLITIK Oleh: Shaifuddin Bahrum

Warga Tionghoa di Makassar kini bukan lagi warga Tionghoa 10 tahun yang lalu. Warga yang senantiasa diliputi rasa ketakutan dan was-was dan hidup dalam tekanan sosial, budaya dan politik. Setelah reformasi warga Tionghoa khususnya di Makassar telah bermetamorfosis menjadi masyarakat Indonesia sepenuhnya baik secara pisik maupun secara psikologis.
Khusus dalam dunia politik, selama pemerintahan Orde Baru mereka sama sekali tidak bisa melangkahkan kakinya masuk ke ruang itu. Selain mereka di batasi oleh berbagai aturan terutama Undang-undang (UU) Kewarganegaraan, juga mereka memiliki trauma yang sangat dalam. Sehingga politik adalah yang mereka haramkan yang mereka wariskan secara turun temurun, meskipun mungkin mereka sangat mengimpikannya.
Undang-undang Kewarganegaraan yang lama mempersulit orang Tionghoa untuk terlibat dalam dunia Politik karena UU tersebut tidak mengakui secara juridis warga Keturunan Tionghoa sebagai warga negara, terkecuali mereka mengurusnya dan berupaya memperoleh Surat Keterangan Berkebangsaan Republik Indonesia (SKBRI) dengan harga yang sangat mahal. Karena mereka tidak di akui sebagai warga negara maka mereka tidak bisa terlibat dalam hal yang bersentuhan dengan negara. Termasuk tidak bisa menjadi pegawai negeri, menjadi tentara dan polisi, menjadi anggota partai, anggota legislative, bupati, walikota, gubernur, terlebih lagi menjadi menteri, presiden maupun wakil presiden.
Padahal dalam masyarakat Tionghoa terdapat potensi-potensi dengan kualitas yang baik untuk menduduki jabatan-jabatan/ pekerjaan tersebut. Akhirnya mereka bertumpuk menjadi pedagang dan pengusaha. Setiap hari mereka berpikir soal keuntungan ekonomi yang mereka bisa peroleh, sambil memperkaya diri. Selama 32 tahun lamanya mereka tidak mendapat kesempatan untuk ikut memikirkan nasib dan kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia di mana mereka sebagian besar sudah lahir di negeri ini.
Kalau pun ada yang sempat ikut nimrung bicara soal bangsa mereka langsung dipelototi dengan pandangan penuh rasa curiga. Mereka dicurigai karena dianggap bukan WNI. Warga Tionghoa ketika itu seakan-akan tidak punya hak untuk memikirkan Indonesia.
Akhirnya mereka yang berkeras untuk menyumbangkan pikirannya untuk kemajuan bangsa bersembunyi di belakang layar atau bertindak frontal dan kemudian menjadi musuh pemerintah.
Namun Periode akhir pemerintahan Orde Baru sebelum tumbang (1998), Bob Hasan sudah masuk dalam kabinet pemerintahan Soeharto. Lalu kemudian dalam kabinet selanjutnya setelah reformasi bermunculanlah pigur-pigur Tionghoa lainnya. Tidak hanya di kabinet tetapi juga dalam parlemen.
Pada Pemilu 1999 masyarakat Tionghoa Indonesia membentuk partai-partai yang eksklusif Tionghoa yakni Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (PRTI), dan Partai Bhineka Tunggal Ika. Meskipun kedua partai ini secara perlahan-lahan ditolak sendiri oleh banyak kalangan dalam masyarakat Tionghoa. Karena mereka tidak lagi ingin terkesan eksklusif dan masih dibayangi oleh kasus Baperki.
Tokoh-tokoh Tionghoa yang mau terjun ke dunia politik lebih baik memilih partai-partai nasional, seperti Golkar, PDIP, PAN, dan lain-lain sebagainya. Hal ini mereka lakukan untuk menunjukkan bahwa mereka mau berbaur dan lebur dengan saudara mereka yang lain. Beberapa di antaranya terpilih menjadi legislator dan berkantor di DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.
Warga Tionghoa juga sudah mulai turut aktif terlibat dalam Pilkada menjadi calon gubernur dan bupati/ walikota. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Tionghoa sudah mulai menemukan jati dirinya dalam dunia politik dan pemerintahan.
Jumlah warga Tionghoa yang terlibat dalam dunia politik semakin meningkat hal ini terlihat di Makassar. Pada Pemilu 1999 orang Tionghoa yang terlibat sebagai caleg hanya dua orang, tetapi pada Pemilu 2004 tercatat 12 orang, sementara menghadapi Pemilu 2009 terdapat 24 orang Tionghoa yang terdaftar di berbagai partai politik sebagai caleg.
Secara perlahan-lahan masyarakat Tionghoa menemukan ruangnya dalam dunia politik dengan membangkitkan keberaniannya untuk menghalau segala trauma dan rasa takutnya pada masa orde baru yang lalu. Kehadiran mereka dalam dunia politik juga menunjukkan rasa cinta mereka yang besar kepada Tanah Air Indonesia.
Masyarakat Tionghoa mempunyai peluang dan harapan besar dalam dunia politik karena selain mereka kebanyakan bukan pegawai negeri, mereka pun ditunjang oleh pinansial yang relatif cukup untuk membiayai proses menuju kursi legislative. Kemampuan SDM mereka pun dapat diasah melalui proses pembelajaran.

Senin, 22 Desember 2008

WAKATOBI MENAWARKAN SORGA BAWAH LAUT


Indonesia yang merupkan daerah kepulauan memiliki wilayah laut yang sangat luas. Laut menyimpan kekayaan yang tak ternilai jumlahnya, baik yang berada di dalam laut maupun mineral yang terkandung di dasarnya. Belum lagi keindahan taman laut yang menjadi karunia tersendiri bagi negeri ini.
Tidak heran jika di wilayah Indonesia terdapat sejumlah taman laut yang mempesona para wisatawan. Salah satu daerah yang memiliki keindahan bawah laut yang luar biasa adalah Kabupaten Wakatobi yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Daerah ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton sebagai induknya. Empat tahun yang lalu daerah yang terdiri atas 142 pulau ini memisahkan diri dan membentuk kabupaten baru.
Nama Wakatobi adalah gabungan dari empat pulau besar yakni pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Kawasan Wakatobi yang luasnya kurang lebik 1.4 juta Kilometer ini sebagian besar wilayahnya adalah lautan dan hanya ada 3% wilayahnya adalah daratan. Pemerintah Wakatobi bersama pihak swasta mengembangkan wisata bahari dengan memfokuskan pemasaran wisata bawah lautnya.
Keindahan alam bawah laut Wakatobi memang sangat menakjubkan karena di daerah ini terdapat hamparan karang di dasar laut dangkal dan dalam yang sangat indah. Di daerah ini wisatawan dapat menemukan 750 jenis spesies laut yang indah dan unik dari 850 jenis spesies laut yang dimiliki dunia. Termasuk berbagai jenis karang dan tumbuhan laut yang beraneka bentuk dan warnanya. Demikian juga berbagai jenis binatang laut yang cantik dan mempesona.
Kecantikan bawah laut ini didukung oleh bening dan bersihnya air laut. Hal ini disebabkan karena lingkungan laut di Wakatobi masih terpelihara dengan baik. Di sana belum ada polusi yang berarti. Tidak ada pabrik atau industri yang membuang limbahnya ke laut. Pulau-pulau di Wakatibi tidak memiliki sungai yang biasanya menjadi sarana transportasi berbagai jenis sampah di daratan terbuang ke laut.
Berbagai sarana pendukung untuk para wisatawan juga telah diadakan untuk memanjakan para pengunjung yang berwisata di pulau-pulau ini. Misalnya pasilitas penginapan dan perhotelah, restoran, serta kapal pesiar ataupun kapal dengan kecepatan tinggi. Juga tersedia alat selam (diving) berenang dipermukaan laut (snorkeling) bagi mereka yang belum memiliki sertifikat menyelam.
Untuk datang ke Wakatobi terdapat dua pintu, yakni melalui jaringan pariwisata Internasional yang masuk dari Bali dan juga bisa masuk melalui Kota Kendari. Wisatawan mancanegara biasanya memilih pintu Bali dengan harus antri paling kurang 3 tahun. Tetapi bagi wisatawan domistik lebih mudah masuk melalui pintu Kota Kendari.
Biaya yang harus dikeluarkan setiap orang yang ingin berkunjung ke daerah ini paling tidak harus mengeluarkan dana sekitar Rp.900 ribu sampai dengan Rp. 1 juta perhari. Tetapi jika ingin mengambil paket wisata selama 3 - 4 hari tentu dapat lebih murah.
Meskipun biaya tersebut relatif lebih mahal namun jika sudah menikmati keindahan bawah laut maka biaya tersebut tidak lagi dapat dibandingkan dengan kepuasan yang diperoleh. Tentu menikmati sorga di bawah laut dengan pemandangan yang mempesona dan menakjubkan akan membawa kenangan yang sulit terlupakan (udin bahrum).