Jumat, 09 Desember 2011

BECAK

Hampir semua kota-kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, masih dapat ditemukan kendaraan tradisional yang digerakkan oleh tenaga manusia yang bernama becak. Namun Kendaraan ini kian hari kian terpinggirkan dan kini beroperasi dipinggiran-pinggiran kota. Bahkan kota Jakarta sudah menghapus becak sebagai alat transportasi. Kondisi ini menimpa becak lantara di kota-kota besar sudah kian dipadati dengan kendaran modern yang menggunakan mesin yang memacu alat tranformasi itu menjadi semakin laju, seperti motor, mobil, dan kereta api.

Becak yang digerakkan dengan tenaga manusia menjadi sangat lambat, meskipun pada era awal abad ke 20 becak telah menjadi alat transportasi yang cukup populer dalam masyarakat karena masih bersaing dengan kuda, ataupun dokar (bendi). Bahkan pada masa pemerintahan Kolonial kendaraan ini merupakan alat angkut masyarakat umum, sementara masyarakat kelas atas menggunakan motor dan mobil-mobil Eropa yang masih sangat terbatas jumlahnya. Sementara kalangan bangsawan local menggunakan kendaraan dokar atau bendi untuk pergi kemana-mana.

Kata “becak” yang berasal dari bahasa Hokkian (China) yakni ‘be chia’ yang berarti kereta kuda adalah kendaraan yang berbentuk segi empat dengan disanggah oleh tiga buah roda (ban). Dalam pesebarannya di Indonesia becak memiliki bentuk yang sangat bervariasi di banyak kota. Meskipun demikian becak dibuat untuk mengangkut dua orang penumpang dan seorang pengemudi.

Becak yang juga dapat ditemukan di luar Indonesia pada prinsipnya sama saja yang ada di Indonesia meskipun bentuknya yang berbeda. Selain di Indonesia beberapa Negara Asia juga memiliki becak seperti China, Malaysia, Singapura, Philipina, Thailand, Myanmar, Banglades, India dan lain-lain sebagainya.

Untuk mengabadikan becak sebagai alat trasnportasi tradisional yang bernah ada di beberapa kota di Indonesia ataupun di beberapa berapa negara di Asia maka kami merasa perlu untuk membuat sebuah Museum Becak yang akan mengumpulkan dan memaparkan sejarah perlkembembangan becak di beberapa kota di Indonesia.

BECAK INDONESIA

Di Indonesia becak dapat ditemukan di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogjakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Ambon, dan lain-lain sebagainya. Masing-masing kota memiliki bentuk yang bervariasi. Sehingga bentuk becak tersebut merupakan suatu kreatifas anak bangsa Indonesia dan menjadikannya salah satu kakayaan budaya bangsa masa lalu.

Badan becak pada umumnya dibuat dari bahan besi sebagai rangkanya dan bagian-bagian tertentu menggunakan papan dan balok yang sudah diketam rapi. Becak pada umumnya diproduksi dibengkel-bengkel tukang besi yang berada di kota tempat becak beroperasi. Biasanya bengkel tersebut akan menjadi pabrib becak.

Bentuk becak di Jawa berbeda dengan bentuk becak yang ada di Makassar dan Medan. Becak yang ada di Jawa menempatkan ruang penumpangnya di depan dengan disanggah oleh dua buah roda. Sementara pengemudinya berada di belakang dengan satu ban yang dilengkapi dengan pedal alat gayung yang dihubungkan dengan rantai dan gir yang menggerakkan rodanya. Roda belakang inilah yang kemudian mendorong ruang penumpang ke depan. Selain itu juga di dekat dudukan pengemudi juga terdapat tungkai rem yang berhubungan dengan pelep ban yang dapat menghentikan perputaran roda tersebut dan menghentikan becak dari laju pergerakannya.

Ruang penumpang becak Jawa dibuat khusus untuk dua orang dan masih terasa longgar untuk ukuran tubuh orang Jawa yang berukuran sedang (tidak gemuk). Ruang ini terbuka ke depan tanpa adanya penghalang. Untuk kenyamanan penumpang ruang ini dilengkapi dengan tempat duduk (jok) dan sandarannya yang dibuat lembut dari sabuk kelapa dan karet busa lalu ditutupi karpet plastic. Di bagian atas dibuat tenda dengan rangka besi lalu diberi penutup pelastik. Pada saat-saat tertentu jika matahari tidak terik atau tidak hujan tenda penutup ini dapat dilipat ke belakang. Jika hujan tenda penutup atas itu dibentang dan bagian samping, depan dan belakang diberi penutup pelastik. Sementara untuk pengemudinya akan menyenakan jas hujan (mantel) pelastik atau menggunakan topi lebar (caping) seperti yang digunakan petani diladang atau di sawah.

Antara ruang penumpang dan tempat pengemudi menggayung dan mengemudikan arak laju becak terdapat rangka besi yang besar yang dihubungkan dengan sebuah ensel putar yeng terletak di bawah dudukan penumpang. Ensel putar ini membuat badan becak dapat pergerak membelok ke kanan dan ke kiri. Kemudi becak berada dibagian belakang ruang penumpang tepat di bagian belakang sandaran. Sehingga pengemudi akan berpegangan di belakang sandaran ruang penumpang atau sesekali di bagian atas tenda jika sedang terpasang.

Becak Makassar memiliki bentuk dan ukuran yang agak berbeda sekalipun prinsip dasar dan struktur mekaniknya sama. Becak Makassar memiliki ukuran yang lebih kecil dari pada becak Jawa. Perbedaan lainnya adalah bentuknya yang lebih mengerupai kotak dengan sudut-sudut persegi yang tajam. Berbeda dengan becak Jawa yang sudut sudutnya lebih terbuka dan cendrung membulat. Pada bagian depan becak Makassar memilih papan pemisah dengan bagian luar becak meskipun agak rendah sementara becak Jawa lebih terbuka di bagian depannya.

Becak Medan (Sumatera) lebih ektrim perbedaannya dibanding dengan becak Jawa dan Makassar (Sulawesi). Becak Medan menggunakan sepeda gayung sebagai penggeraknya. Sepeda yang utuh tersebut ditempelkan dengan las atau baut secara semi permanen dengan ruang penumpang yang terletak di samping kirinya. Sepeda yang ditempelkan adalah sepeda besar (ontel) yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan untuk digunakan keperluan lain.

Pengemudi becak Medan berada di samping kanan dan sedikit lebih di depan dari ruang penumpang dan arah laju becak dikendalikan pada kemudi sepeda. Remnyapun menggunakan rem yang ada pada kemudi sepeda sepeda.

Ruang penumpang ini memiliki sebuah ban disebelah kiri dan di kanan mengandalkan ban belakang milik sepeda. Untuk kenyamanan penumpang tempat duduknya dibuat dari bahan empuk dan lembut.

Tidak ada komentar: