Sabtu, 12 April 2014

TELADAN BOLEH TIDAK BOLEH SUAMI TERCINTA

(Berdasar Kisah Nyata)

Oleh: Shaifuddin Bahrum


Ini kisah beberapa tahun silam.
Pak Arif Rahmat (58 tahun/ bukan nama sebenarnya) dinyatakan oleh dokter yang merawatnya beberapa jam lalu telah meninggal dunia akibat serangan jantung di RS. Ciptomangunkusumo Jakarta. Serangan jantung tersebut datang saat ia menjalankan aktifitasnya di ruang kerjanya digedung DPRD. Selama sepuluh tahun ia duduk sebagai anggota legislatif di sebuah daerah di Jawa Barat, daerah kelahirannya. Sebelumnya ia adalah seorang pengusaha yang cukup sukses membangun perusahannya selama bertahun-tahun. Ketika ia terpilih sebagai anggota DPRD ia pun menyerahkan perusahaan itu kepada direktur profesional untuk memimpin perusahaannya.
Pak Arif adalah seorang ayah yang dicintai istri dan 3 orang anaknya yang sedang tumbuh karena ia pun selalu menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang itu pada keluarganya. Sebagaimana pun sibuknya sebagai anggota DPRD ia tak pernah lalai memberikan perhatian pada istri dan anak-anaknya. Setiap pukul 08.00 pagi ia meninggalkan rumah menuju kantornya dan setiap pukul 06.00 ia sudah berada di rumah, dan memimpin keluarganya shalat berjamaah.
Waktu-waktu libur pun ia selalu mengisi waktunya untuk jalan-jalan bersama keluarganya. Kadang ia keluar kota kadang pula ia menghabiskan waktunya di mall-mall atau makan bersama di restoran tertentu.
Sebagai seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab ia memenuhi segala kebutuhan keluarganyanya. Tiga orang anak ia sekolahkan di sekolah yang baik meskipun ia membayar sedikit mahal. Anah tertuanya yang laki-laki sudah di kelas 3 SMA dan sedang bersiap-siap untuk ujian dan tes masuk perguruan tinggi, anak keduanya seorang putri remaja yang duduk dikelas 1 SMA, dan putri bungsunya duduk di kelas 2 SMP.
Berita yang disampaikan dokter tentang kematian sang suami dan ayah tercinta tentu sangat mengguncang perasaan keluarganya. Istrinya jatuh pingsan sangat mendengar berita yang sangat tiba-tiba itu, ia tak kuasa menerima perpisahaan yang begitu tiba-tiba setelah sekian puluh tahun keduanya hidup saling mencintai, demikian juga anak-anaknya yang masih sangat membutuhkan seorang figur seorang ayah kini merasa sangat kehilangan.
Bukan hanya keluarga pak Arif yang tiba-tiba merasa kehilangan tetapi juga tetangga-tetangganya. Meskipun pak Arif termasuh orang yang super sibuk tetapi ia selalu meluangkan waktunya untuk bersilaturrahin dengan tetangganya meskipun hanya sebentar. Tak ajal lagi ketika berita kematian anggota legislatif ini diumumkan dan disebarkan melalui pembesar suara (mikrofone) mesjid dekat rumahnya maka warga dengan cepat berkumpul di rumah duka. Ketika mayatnya tiba di rumah masyarakat segera mengerubunginya sambil melantungan takbir, tahmid, tahlil, dan puja-puji ke hadirat Allah, sembari mendoakan almarhum.
Jenazah pun diletakkan ditempat yang sudah disiapkan sebelumnya oleh keluarga di ruang tengah. Bergantian keluarga, sanak famili, warga tetangga, dan teman-teman sekerjanya datang melayat dan membacakan doa dan menyampaikan ucapan belasungkawa dan duka cita yang dalam. Sang istri dan anak-anaknya tak pernah jauh dari sisi jenazah.
Geliran berikutnya seorang ibu berusia 40an tahun datang pula bersama tiga orang anak muda (semua mata yang memandang sudah mengira anak muda itu adalah putra-putri sang ibu). Ia masuk ke ruang tengah tempat jenazah dibaringkan. Istri pak Arif menyambut jabatannya ketika ibu itu memilih duduk disampingnya. Ibu itu duduk dengan tafakkur sambil berdoa meskipun matanya sudah sembab oleh air mata. Ketiga anak muda yang seusia anak-anak pak Arif itu pun ikut menangis tersedu-sedu tak tahan akan kesedihannya. Istri pak Arif bertanya-tanya dalam hati...."Siapa mereka ini....?". Ia tak pernah mengenalnya, mereka juga bukan dari kalangan keluaraga, tak pernah juga ia melihatnya sebagai kawan kerja pak Arif.
Setelah meredakan tangisnya sekali lagi ibu itu mengulurkan tangannya kepada istri pak Arif lalu keduanya berpelukan atas inisiatif sang ibu yang baru datang. Setelah mereka saling melepas, sang itu itu merogoh tas yang dibawanya. Ia ngeluarkan sebuah surat dari sana lalu diberinya pada istri pak Arif. Istri pak Arif membuka lembaran surat itu, format surat yang sudah ia kenal. Surat yang berbentuk buku kecil bersampul hijau tua itu adalah surat nikah pak Arif dan sang Ibu, anak-anak yang datang bersamanya adalah anak-anak pak Arif pula.
Memandangi surat nikah itu pandangan mata istri pak Arif jadi gelap, kepalanya terasa pusing berputar-putar, ia lalu jatuh pingsan jagi.
Keluarga yang menyaksikan peristiwa itu langsung menolong sang istri yang pingsan dan membawanya ke kamar. Keluarga yang lain membawa sang ibu ke ruang lain untuk di wawancarai. Lalu iapun bercerita.
"Kemi menikah kurang lebih 20 tahun yang lalu. Atas permintaan Bapak (pak Arif) saya rela menjadi istri tersembunyi dan merahasiakan pernikahan kami terhadap keluarganya. Anak-anakpun sepakat dengan perjanjian itu."
"Lalu kapan kalian sebagai keluarga bertemu?" tanya seorang keluarga.
"Setiap hari ketika jam istirahat kantor pak Arif selalu di rumah, dan ketika pulang ia pun menyempatkan mampir ke rumah meskipun hanya sejam saja. Setiap ia melakukan kunjungan keluar daerah atau reses saya dan anak-anak pasti ikut meskipun kami tidak jalan bersama. Begitulah selama dua puluh tahun saya menjalani kehidupan dengan beliau... Dan beliau telah menunjukkan kesetiaannya kepada keluarganya...." Tuturnya yang diselingi dengan isak tangis. Yang mendengarkan tuturan itu sebagian menjadi semakin kagum pada pak Arif tapi sebagian lagi melunturkan sebagian rasa hormatnya karena nilai negatif yang hadir dibenaknya.
Setelah meredakan tangisnya sang ibu menyambung lagi,...
"Anak-anaknya yang saya lahirkan ia perhatikan dengan baik dan membiayai semua pendidikannya......" katanya dan mata hadirin memandang ketiga anak yang mungkin seusia dengan anak-anak pak ARif yang dilahirkan oleh istri pertamanya.
"Dia lelaki yang bertanggung jawab dan setia....." kata ibu itu sebelum ia meninggalkan rumah duka. Ia sadar tak ingin mengganggu lebih lama suasana hikmad berduka di sana. Ia akan menghadiri upacara pemakaman dengan caranya sendiri yang tanpa mengganggu yang lain.

Cileduq, 11-04-14

Tidak ada komentar: