Kamis, 17 September 2009

Liem Kheng Young : PENERJEMAH CERITA TIONGHOA KE DALAM LONTARAQ


Sampai pada tahun 1960an masyarakat Tionghoa di Makassar masih bisa menikmati tulisan-tulisan Liem Kheng Young dalam bentuk buku-buku cerita Tionghoa klasik seperti; Sam Kok, Sie Jin Kui, Hong Sing, Sam Peng Eng Tai, dan lain-lain sebagainya. Kisah-kisah itu dibaca dalam Bahasa Makassar dan dalam aksara lontaraqq. Buku-buku tersebut dapat dijumpai dalam berjilid jumlahnya.
Tercatat 64 judul cerita Tionghoa klasik yang telah diterjemahkan oleh Lieng Kheng Young di sekitar tahun 1928 sampai 1939. Cerita-cerita tersebut ditulisnya dengan tangannya sendiri dengan pit (pena/ kuas Tionghoa) dengan tinta hitam. Tulisannya itu dibuat dalam bentuk cerita bersambung berjilid-jilid. Setiap jilid berjumlah antara 80-84 halaman. Sehingga dapat dibayangkan ketekunan Liem Kheng Young dalam menerjemahkan dan menuliskan cerita-cerita klasik tersebut.
Sebuah cerita paling sedikit dibuat dalam 5 jilid dan ada juga yang ditulis sampai puluhan dan bahkan sampai 100 jilid lebih. Kisah Si Poet Tjoan dibuatnya 110 jilid dan Sam Kok mencapai 150 jilid. Karya tulis Liem Kheng Young berjumlah kurang lebih 2000 jilid.
Tidak kalah mengagumkannya adalah kemahirannya menerjemahkan dan menulis bahasa Makassar dengan aksara lontaraq. Penerjemah yang demikian paling tidak menguasai dengan baik dua bahasa tersebut. Tentu saja bukan hanya menguasai kedua bahasa tersebut (Tionghoa dan Makassar) tetapi juga menguasai latar sosial dan budaya kedua bahasa.
Buku sebanyak itu semasa hidupnya banyak dibaca oleh masyarakat Makassar, terutama kalangan perempuan (uwa-uwa dan encim-encim). Dalam waktu-waktu senggang mereka mengisinya dengan menyewa dan membaca buku-buku karya Liem Kheng Young.
Ketika sebelum perang dunia ke2 Liem Kheng Young bertempat tinggal di Kampung Melayu tepatnya di Jalan Sulawesi (dekat Jalan Pintu Dua). Di depan tempat tinggalnya itu ia membuka kios tempat penyewaan buku-buku tulisannya tersebut.

Liem Kheng Young

Liem Kheng Young di lahirkan di Provinsi (distrik) Tiotoa (Changtai) Fujian bagian Selatan pada tahun 1875 (tidak diketahui tanggal dan bulannya). Ayahnya bernama Liem Eng Djioe.
Sejak masa kecil orang tuanya sudah memberinya pendidikan kepada Kheng Young cilik sejak di negeri Tiongkok. Mo Ling dan Nio Tjiang Thai adalah dua gurunya yang paling berjasa yang telah memberinya pendidikan dasar di negeri asal nenek moyangnya. Ketika ia hijrah ke Makassar ia kemudian banyak belajar Bahasa Makassar dan huruf lontaraq. Kheng Young dikenal dalam keluarganya senang dan gemar membaca cerita-cerita klasik Tiongkok.
Di Makassar orang tuanya bekerja sebagai pedagang yang membuka toko barang pecah belah. Akan tetapi Liem Kheng Young tidak tertarik dengan dunia perdagangan, ia lebih tertarik untuk membaca dan menerjemahkan bacaannya itu ke dalam bahasa Makassar.
Tidak diketahui kapan aktifitasnya itu dimulai oleh Liem Kheng Young. Akan tetapi dari sekian banyak hasil terjemahannya itu dapat ditemukan tahun 1928 sebagai tahun tertua dan 1936 sebagai tahun termuda. Hasil terjemahannya itu yang dipersewakan menjadi lahan pekerjaan utamanya dan menjadi lahan penghasilannya.
Selain menerjemahkan dan menulis cerita ia juga menulis syair-syair ringkas tapi padat. Malah ia juga menulis buku dalam Bahasa Makassar yang memuat kecaman-kecaman terhadap pemuda-pemuda (siocia-siocia) yang bergaya modern dan mertua-mertua yang cerewet dengan kata-kata yang pedas.
Kini karya-karya Lieng Kheng Young sebagian masih tersimpan rapih oleh keluarga mereka. Hanya saja sudah tidak dipersewakan lagi. Karya tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Tionghoa Makassar telah melebar dalam kehidupan masyarakat dan budaya Makassar.(udin bahrum)

Tidak ada komentar: