Kamis, 17 September 2009

MENERIMA DENGAN IKHLAS (Jangan Resah dengan hasil Pemilu)

Bukan lagi kata yang asing. Ikhlas sebagai kata yang petik dari ajaran agama mengajarkan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan tanpa beban dalam hati kita.

Keikhlasan yang lahir dalam diri mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Namun dalam praktiknya bersikap ikhlas itu bukan sesuatu yang gampang untuk dikerjakan, tapi bukan sesuatu hal yang mustahil. Hati kita harus bisa dilatih untuk bersikap pasrah dan berserah diri kepada Tuhan dalam melakukan dan mengerjakan kebaikan.
Baru-baru ini Erbe Sentanu kembali meluncurkan bukunya The Science & Miracle of Zona Ikhlas (2009) setelah sukses dengan bukunya Quantum Ikhlas (2008) yang menjadi best-seller. Buku barunya tersebut memandang Zona Ikhlas dari sisi yang lebih ilmiah.
Saya tiba-tiba berkeinginan besar untuk memiliki buku ini setelah melihat fenomena akhir-akhir ini, terutama setelah dilaksanakannya Pemilihan Umum Legislatif 2009 pada bulan April yang lalu. Begitu banyak caleg yang mengalami penderitaan setelah gagal meraup suara yang menjadi penunjang untuk duduk berkantor di Gedung Perwakilan Rakyat. Sebagian di antara mereka terserang sakit fisik dan sebagian lagi terserang sakit jiwa dan bahkan ada yang sampai bunuh diri.
Hal ini terjadi lantaran mereka telah berkampanye dengan sangat maksimal dengan mengerahkan segala kemampuan dalam dirinya termasuk kemampuan finansialnya. Selain telah menguras tenaga dan pikirannya mereka pun mengeluarkan dana puluhan bahkan ratusan juta selama berkampanye. Mereka melakukan pendekatan, silaturahim, dan memberi bantuan/ sumbangan, baik kepada perorangan maupun ke lembaga-lembaga sosial.
Sesungguhnya apa yang caleg-caleg lakukan itu misalnya memberi bantuan dana, membagi-bagikan sembako dan pakaian, memberikan bantuan pengobatan gratis kepada yang sakit dan lain-lain adalah perbuatan amal. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sesuatu yang mulia di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja sangat disayangkan bahwa pemberian dan perbuatan baik itu sangat sarat dengan pamrih. Mereka memberi dengan mengharap imbalan dan bukan didasari rasa ikhlas karena ibadah kepada Tuhan semata. Di dalam hati para caleg yang tergambar adalah setiap rupiah yang dikeluarkan akan dibalas dengan pemberian suara. Besarnya dana yang dikeluarkan oleh caleg selalu berharap balasan suara yang cukup besar pula jumlahnya. Sehingga ketika melakukan kebajikan tidak ada lagi getaran-getaran Ilahiah yang berharap balasan dari Tuhan tetapi balasan dari manusia.
Ketika dalam Pemilihan Umum harapan itu tidak diraihnya. Suara dari pemilih tidak datang juga maka muncul penyakit dalam hatinya. Di sana ada rasa kecewa, dendam, frustrasi, dan marah. Sehingga untuk melampiaskan perasaannya itu ia kembali ke masyarakat yang pernah diberinya sesuatu menagih dan melakukan perusakan terhadap apa yang mereka telah bangun sebelum pemilu berlangsung. Sebagian para caleg yang memendam perasaan itu terserang penyakit jiwa.
Padahal jika jika semuanya diawali dengan rasa ikhlas mungkin akibatnya tidak separah sekarang ini. Rasa Ikhlas akan membangkitkan rasa percaya dirinya bahwa kegagalan menjadi anggota legislatif bukanlah suatu kiamat dalam kehidupan ini, kegagalan hari ini akan tergantikan dengan kesuksesan di hari esok di tempat yang lain. Tuhan pasti lebih di mana sebaiknya kita berada dalam kehidupan ini. Menjadi caleg bukan satu-satunya tempat meraih sukses. Soal dana yang habis terbagikan akan bernilai amal di sisi Tuhan, dan jika itu ada berkahnya maka Tuhan pasti akan menggantikan dengan rezki yang lebih banyak yang tidak diketahui dari mana asalnya nanti.
Berlaku dan bekerja secara ikhlas dalam kehidupan akan membawa kita dalam berbagai kejaiban dan hasilnya akan menakjubkan. Yah semoga hati ini bisa terus berlatih untuk ikhlas…. (Mei 2009-udin bahrum)

Tidak ada komentar: