Jumat, 11 September 2009

Maq Cammana: PARAWANA TOWAINE YANG BERTAHAN



Parawana Towaine adalah salah satu tradisi (sastra) lisan yang masih bertahan di daerah Mandar (Polman, Majene, dan Mamuju). Kebertahanan kesenian ini masih dilakoni oleh seorang ibu tua; Maq Cammana (72 tahun) dan mengajarkan kepada generasi muda di desanya.

Maq Cammana yang usianya kini semakin uzur, tetap eksis berdaqwah melalui keseniannya. Berbekal sebuah gendang rebana yang berukuran jari-jari 40 cm, Cammana meluncurkan petuah-petuah dan nasehat-nasehatnya kepada audensi yang mengelilingi pertunjukannya di sebuah rumah di Kecamatan Tinambung Polewali Mandar. Biasanya ibu yang sangat disegani dan dicintai oleh anak-anak dan cucunya ini melakukan pertunjukan jauh ke pelosok daerah di Polman, Majene sampai ke Mamuju. Bahkan ia sering di jemput untuk main ke Kalimantan, dan Jawa meninggalkan rumahnya di Desa Limboro Kecamatan Tinambung. Bahkan ulama seniman Emha Ainun Najib beberapa kali melibatkan Maq Cammana berkolaborasi bersama kelompok musik Kyai Kanjeng dan berpentas di Yogyakarta dan Jakarta.


Kesenian Parawana Tawaine (permainan rebana perempuan) tidak lagi ditemukan di daearah Mandar kecuali yang ditekuni oleh Cammana bersama anak cucu dan murid-muridnya. Meskipun di Mandar kesenian rebana masih cukup populer akan tetapi dewasa ini banyak digeluti oleh kaum pria. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan dalam masyarakat Mandar dalam acara perayaan akad nikah, khitanan, khatam Quran, memasuki rumah baru, khakikah, dan lain-lain sebagainya.
Parawana Towaine biasanya dibawakan secara solo (tunggal) akan tetapi sering disajikan secara berkelompok dua sampai lima orang perempuan yang bernyanyi secara bersama-sama. Bagian-bagian yang dinyanyikan secara solo biasanya berisi nasehat-nasehat dan bagian ini dibawakan oleh pimpinan kelompok yakni Maq Cammana. Rombongan lainnya menyanyikan lagu-lagu koor. Syair-syair yang dinyanyikan tersebut sepenuhnya berbahasa mandar. Meski demikian Maq Cammana juga menghafalkan beberapa nyanyian yang berbahasa Indonesia (Melayu).

Kesenian Parawana Towaine ini sangat bernuansa Islam. Selain menggunakan alat musik rebana yang merupakan alat musik dari jazirah Arab, syair-syairnya pun adalah nasehat-nasehat yang dilandasi oleh ayat-ayat suci Alquran dan sunnah Nabi Muhammad. Dengan bentuk yang demikian menjadikan kesenian ini sangat dekat dengan masyarakat mandar yang mayoritas beragama Islam yang taat. Bahkan Parawana Towaine yang dikenal sejak awal masuknya Islam ke Mandar (abad 17) dapat bertahan hingga saat sekarang ini.
Ketika Maq Cammana masih remaja kesenian ini banyak digemari. Bahkan ketika itu ia sempat belajar bersama 5 orang kawannya pada seorang guru yang masih terbilang kerabatnya. Kelima orang kawannya itu juga membentuk kelompok di desanya masing-masing. Namun dalam perjalanan waktu, kawan-kawannya itu tidak lagi menggeluti kesenian rebana ini. Bahkan beberapa diantaranya sudah meninggal.
Untung saja masih ada Maq Cammana yang bisa meneruskan kesenian yang terancam punah ini dan bahwa dapat mewariskannya kepada anak dan cucunya serta beberapa generasi muda lainnya. Di rumahnya di Desa Limboro Maq Cammana yang juga dikenal sebagai uztasah ini membangun sebuah sanggar dengan bangunan permanen atas bantuan Pemkab Polman yang peduli atas kesenian Parawana Towaine ini. Di tempat inilah Maq Cammana pada hari-hari tertentu mengumpulkan murid-muridnya untuk belajar bermain rebana sambil menghafalkan syair-syair dakwah yang telah diwariskan secara turun temurun atau dibuat baru (Udin Bahrum - Salma).

Tidak ada komentar: